Stok di Bulog pun membengkak. Pernah menyentuh angka 4,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Dengan cadangan sebanyak itu, pemerintah punya ruang gerak lebih leluasa untuk mengendalikan harga dan menjaga pasokan tetap aman. Ini berita bagus buat kita semua.
Namun begitu, yang paling menggembirakan mungkin adalah dampaknya langsung ke petani. Nilai Tukar Petani (NTP) menembus angka 125, tertinggi dalam seperempat abad terakhir. Artinya, pendapatan dan daya beli mereka membaik. Setelah sekian lama, jerih payah di sawah akhirnya terbayar dengan kesejahteraan yang lebih nyata.
Hebatnya lagi, sektor pertanian kita ternyata tak cuma jago urusan dalam negeri. Di pasar global, kinerjanya juga gemilang. Hingga Oktober 2025, nilai ekspornya tembus Rp629,7 triliun naik drastis lebih dari 33%. Jadi, selain bisa makan dari hasil sendiri, kita juga mulai mengekspor. Kompetitif, kata mereka.
Pencapaian ini tentu bukan akhir perjalanan. Pemerintah sendiri bilang, ini baru fondasi. Ke depan, komitmennya adalah menjaga momentum ini agar tak sekadar euforia sesaat. Swasembada akan diperluas ke komoditas lain, konsistensi produksi harus dijaga, dan yang terpenting, manfaatnya harus benar-benar merata sampai ke petani kecil dan nelayan di pelosok.
Jalan masih panjang. Tapi setidaknya, langkah awal yang satu ini patut diapresiasi.
Artikel Terkait
Trump: Iran di Ambang Kejatuhan, Rakyat Mulai Kuasai Kota
Akreditasi Tinggi, Layanan Sepi: Ilusi Mutu Perpustakaan yang Tersandera Angka
Swasembada Pangan: Dari Target Ambisius Menjadi Kenyataan yang Terukur
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam