Swasembada Pangan 2025: Sebuah Tonggak yang Terlampaui
JAKARTA Target itu terlihat ambisius. Tapi nyatanya, Indonesia berhasil mencapainya lebih cepat. Swasembada pangan, yang ditargetkan tuntas pada 2025, justru sudah bisa diumumkan setahun lebih awal. Sebuah pencapaian yang, jujur saja, cukup mengejutkan banyak pihak.
Semuanya diresmikan lewat sebuah acara Panen Raya di Karawang, Jawa Barat, awal Januari 2026 kemarin. Suasana di sana riuh rendah, penuh dengan semangat. Acara itu bukan sekadar seremoni belaka, melainkan penanda bahwa ketahanan pangan kita akhirnya menguat. Ketergantungan pada impor, perlahan tapi pasti, bisa ditekan.
Presiden Prabowo Subianto hadir dan menyampaikan pidato yang tegas. Baginya, soal pangan ini adalah urusan paling mendasar dari kedaulatan sebuah bangsa.
“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan, pangan, tergantung bangsa lain,” tegasnya.
Ucapannya itu bukan tanpa bukti. Angka-angka yang dirilis pemerintah memang cukup meyakinkan. Produksi beras nasional tahun 2025 melonjak jadi 34,71 juta ton. Itu artinya ada kenaikan signifikan, sekitar 13% lebih banyak dari tahun sebelumnya. Hasilnya? Indonesia punya surplus beras 3,52 juta ton dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, tak perlu impor beras sepanjang tahun 2025.
Artikel Terkait
Trump: Iran di Ambang Kejatuhan, Rakyat Mulai Kuasai Kota
Akreditasi Tinggi, Layanan Sepi: Ilusi Mutu Perpustakaan yang Tersandera Angka
Swasembada Pangan: Dari Target Ambisius Menjadi Kenyataan yang Terukur
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam