Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, sang KSAD, baru-baru ini angkat bicara soal fenomena yang agak menggelitik di lokasi bencana, terutama di wilayah Sumatra. Menurutnya, ada pola yang kerap terlihat: sejumlah donatur atau lembaga lebih sibuk dengan urusan pencitraan ketimbang turun tangan langsung membantu.
Ya, bantuan datang. Tapi yang lebih dulu masuk seringkali adalah spanduk dan atribut berukuran besar, mencolok mata. Identitas mereka ditonjolkan secara berlebihan. Sayangnya, setelah sesi dokumentasi dirasa cukup, mereka justru pergi. Bantuan yang dibawa ditinggalkan begitu saja untuk disalurkan oleh pihak lain, seperti relawan atau aparat setempat.
"Datang membawa nama besar, tapi yang menyalurkan justru orang lain,"
ujar Maruli, seperti dikutip dari sejumlah pemberitaan.
Pernyataannya ini jelas menyentil praktik yang belakangan sering disebut sebagai "bantuan seremonial". Di tengah keprihatinan dan penderitaan korban, ada kesan kuat bahwa empati dan aksi nyata justru dikalahkan oleh keinginan untuk tampil. Padahal, esensi dari bantuan kemanusiaan seharusnya jauh lebih sederhana: kecepatan, ketepatan, dan yang paling penting, keikhlasan.
Maruli menegaskan, dalam situasi darurat bencana, masyarakat yang terdampak sebenarnya butuh kehadiran nyata dan kepedulian tulus. Mereka butuh tangan yang membantu, bukan sekadar logo besar yang menghiasi tumpukan barang bantuan. Bantuan, kata dia, sebetulnya bisa disalurkan dengan cara yang lebih ikhlas. Tanpa perlu izin berlapis, tanpa keributan, dan tentu saja, tanpa klaim-klaim berlebihan yang justru mengaburkan tujuan utama.
Artikel Terkait
Trump: Iran di Ambang Kejatuhan, Rakyat Mulai Kuasai Kota
Akreditasi Tinggi, Layanan Sepi: Ilusi Mutu Perpustakaan yang Tersandera Angka
Swasembada Pangan: Dari Target Ambisius Menjadi Kenyataan yang Terukur
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam