"Bantuan itu bisa diserahkan tanpa izin, tanpa ribut, dan tanpa klaim berlebihan. Yang penting sampai ke masyarakat,"
tegasnya.
Sebagai institusi yang hampir selalu berada di garis depan penanganan bencana, TNI AD sendiri mengaku lebih mengedepankan kerja konkret. Mulai dari distribusi logistik, evakuasi, hingga pemulihan infrastruktur. Semua dilakukan tanpa perlu pamer atau membuat gebyar-gebyar yang tidak perlu. Mereka ada di lapangan, berkotor-kotor, dan langsung bersentuhan dengan korban.
Di sisi lain, sindiran KSAD ini seakan menjadi pengingat keras bagi semua pihak. Bahwa lokasi bencana bukanlah panggung untuk pamer kedermawanan. Di balik setiap paket sembako atau tenda pengungsian, ada manusia yang sedang berjuang, yang membutuhkan uluran tangan, bukan sekadar bidikan kamera.
Harapannya sih sederhana: agar para donatur, baik perorangan maupun organisasi, bisa menempatkan nilai kemanusiaan di atas segalanya. Karena bantuan yang diberikan dengan tulus, sekecil apapun, akan terasa lebih bermakna dan membekas dibandingkan bantuan besar yang penuh dengan embel-embel publikasi.
Respons atas pernyataan Maruli ini pun beragam. Banyak yang mengangguk setuju, melihatnya sebagai kritik yang tepat di momen yang juga tepat. Terutama di era sekarang, dimana kesadaran publik akan transparansi dan ketulusan dalam aksi sosial semakin tinggi. Masyarakat mulai jeli, mereka bisa membedakan mana yang benar-benar membantu, dan mana yang sekadar cari cuan citra.
Artikel Terkait
Laporan Ungkap Aliran Dana Terduga Teroris Lewat Binance, Pegawai Penyelidik Malah Diberhentikan
Tren Bukber Ramadan di Makassar Beralih ke Restoran dengan Konsep Estetik
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana
Pantai Akkarena Makassar: Destinasi Favorit Warga dengan Pemandangan Senja Memikat