"Kondisi jalan di Jakarta saja itu bisa makan tempat, makanya dikasih jalur khusus," ujarnya membandingkan. "Nah, di Sawangan jalurnya tidak ada, tapi dipaksakan. Ya memang ada dampaknya buat orang-orang yang perjalanan jauh."
Tanpa jalur khusus, operasional bus besar itu dinilai justru memperumit lalu lintas. "Biasanya mobil kalau berhenti itu minggir dulu. Kalau bus Transjakarta kan tidak bisa," jelas Yusa.
"Sekarang kalau berhenti, jalannya ketutup bus, tidak ada celah lagi. Jangankan mobil, motor saja tidak bisa lewat. Itu kan karena jalannya terlalu sempit."
Risikonya bertambah. Para pengendara roda dua pun jadi berpikir panjang untuk menyalip, khawatir tersenggol bodi bus yang besar. Rasa was-was itu ikut memperlambat arus.
Melihat situasi ini, Yusa punya harapan. Pelebaran jalan tentu penting, bahkan sangat mendesak. Namun, ada hal lain yang menurutnya lebih tepat untuk segera diatur.
"Pelebaran jalan itu penting, penting banget di sini," tegasnya. "Cuma yang lebih tepat itu pengaturan Transjakarta yang melintas di wilayah sini."
Solusinya mungkin tak sederhana. Tapi tanpa penanganan serius, kemacetan di Sawangan dipastikan akan terus menjadi cerita yang berulang setiap pagi.
Artikel Terkait
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam
Iran Padamkan Internet, Tuding AS dan Israel Picu Kerusuhan dari Aksi Damai
Dentuman Kembali di Aleppo, 22 Nyawa Melayang dalam Bentrokan
Gaji Dua Digit: Simbol Prestasi atau Jerat Kecemasan?