Di tengah ramainya kabar soal penyebaran "super flu", Kementerian Kesehatan punya pesan utama untuk publik: kuncinya ada di diri kita sendiri. Tepatnya, pada seberapa kuat pertahanan alami tubuh kita.
Hal ini ditekankan oleh Aji Rokomyanmas, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, dalam sebuah pertemuan di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu lalu. Menurutnya, kondisi tubuh yang prima adalah benteng pertama yang harus kita jaga.
“Jadi begini, menurut kami pertahanan terbaik adalah imunitas tubuh yang harus diperkuat,” ujar Aji.
“Jadi anak-anak, siapa pun itu dewasa maupun lansia perkuatlah pertahanan tubuh dengan imunitas yang baik.”
Caranya? Gak rumit-rumit amat. Pola hidup sehat biasa saja. “Makan bergizi, istirahat cukup,” sambungnya. Soal vaksin, ia menyebut itu boleh saja, tapi sifatnya opsional. Tidak diwajibkan.
“Jadi tidak wajib. Vaksin boleh untuk kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, dan tenaga kesehatan,” tuturnya.
Nah, pesan penting lainnya: jangan paksakan diri. Kalau badan sudah terasa tak enak, lebih baik istirahat di rumah. “Kalau memang sakit, sebaiknya tetap di rumah, pakai masker, terapkan etika batuk dan bersin,” jelas Aji.
“Kalau sudah berat, sakitnya lebih dari dua atau tiga hari, segera periksa ke dokter atau fasilitas kesehatan.”
Lalu, bagaimana dengan pantauan Kemenkes soal virus ini?
Berdasarkan pemeriksaan laboratorium terhadap ratusan sampel, beberapa varian influenza berhasil diidentifikasi. Aji menyebut ada temuan Influenza A PDM 09 dan juga Influenza A H3N2.
“Dari H3N2 tersebut, sekitar 62 persen merupakan subclade K. Sisanya adalah Influenza B,” sambungnya.
Kabarnya, seluruh pasien yang terdata dalam laporan tersebut sudah dinyatakan pulih. Data itu sendiri didapatkan pada minggu pertama September lalu. “Jadi tidak ada yang sakit berat dan tidak ada yang meninggal,” kata Aji meyakinkan.
Lantas, apakah kita akan kembali dihadapkan pada aturan ketat seperti masa pandemi dulu? Ternyata belum. Aji menegaskan belum ada kewajiban protokol kesehatan khusus seperti saat Covid-19 melanda. Meski begitu, kewaspadaan tetap harus dijaga.
“Kalau kita merasa sakit atau kurang sehat, dan terpaksa harus bekerja, gunakan masker. Kemudian jaga jarak dan cuci tangan,” imbau Aji.
Ia menambahkan, pemantauan terus dilakukan. “Kewaspadaan tetap kita lakukan. Kami juga memantau laporan dari WHO, CDC, dan sumber lainnya, lalu mengompilasikannya dengan laporan dari daerah,” tandasnya.
Intinya, situasinya memang perlu diwaspadai, tapi belum sampai level yang mengharuskan kita panik. Menjaga tubuh tetap fit dan punya kesadaran penuh saat sakit, itu langkah paling bijak untuk saat ini.
Artikel Terkait
AC Milan Tersungkur di San Siro, Kalah 0-1 dari Parma
Pakar Hukum Soroti Daya Paksa dan Krisis Kepercayaan Publik pada Aparat
Jadwal Imsak dan Subuh Medan 23 Februari 2026: Imsak Pukul 05.12 WIB
Imsak Yogyarta Pukul 04.16 WIB, Ulama Ingatkan Keberkahan Sahur dan Kuatkan Niat