Misteri Dentuman dan Kilatan Cahaya di Puncak Cianjur, Ahli Beda Pendapat

- Rabu, 07 Januari 2026 | 18:54 WIB
Misteri Dentuman dan Kilatan Cahaya di Puncak Cianjur, Ahli Beda Pendapat

Suara dentuman keras disertai kilatan cahaya tiba-tiba mengguncang ketenangan malam di sejumlah kecamatan kawasan Puncak, Cianjur. Kejadian yang membuat warga setempat heboh dan bertanya-tanya ini pun langsung disoroti oleh para ahli.

Dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Penyelidik Bumi Utama Supartoyo memberikan penjelasan awal. Menurutnya, fenomena yang terjadi pada Rabu (7/1) itu diduga kuat berkaitan dengan energi elektromagnetik.

"Peristiwa tersebut, diduga berkaitan dengan fenomena atmosfer dan geofisika," ujar Supartoyo kepada wartawan.

Namun begitu, ia mengaku masih belum bisa memastikan pemicu pastinya. "Untuk pemicunya belum tahu, karena tidak ada aktivitas kegempaan yang biasanya memicu peristiwa tersebut," tambahnya. Jadi, meski ada dugaan, penyebab utamanya masih gelap.

Lain lagi pendapat yang datang dari kantor BMKG Jawa Barat. Kepala BMKG Jabar, Teguh Rahayu, punya analisis yang sedikit berbeda. Ia menyoroti bahwa data mereka tidak mencatat adanya gempa atau aktivitas petir saat kejadian.

"Saat peristiwa itu terjadi, berdasarkan data BMKG tidak terjadi aktivitas kegempaan dan petir. Sementara, diduga akibat aktivitas manusia," jelas Teguh.

Jadi, kemungkinan lain adalah ulah manusia. Entah apa, itu masih jadi misteri.

Sementara kedua lembaga itu masih mengkaji, di lapangan, BPBD Kabupaten Cianjur langsung bergerak. Kepala BPBD Iwan Karyadi menyebut pihaknya masih menelusuri sumber informasi yang valid terkait dentuman dan cahaya merah itu. Warga yang resah tentu butuh kepastian.

"Kami sedang cari info. Sumber dentuman dan cahayanya darimana. Kami harap warga tetap tenang. Tidak boleh panik, tapi tetap waspada," pesan Iwan.

Nah, sampai saat ini, jawaban pasti masih dicari. Yang jelas, para pihak berwenang meminta masyarakat untuk tidak panik namun tetap siaga menunggu perkembangan informasi lebih lanjut.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar