Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penghentian sementara inisiatif baru yang diluncurkan untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak akibat blokade Selat Hormuz oleh Iran. Inisiatif yang diberi nama "Project Freedom" itu disebut Trump sebagai langkah kemanusiaan yang dimaksudkan untuk membebaskan orang-orang, perusahaan, dan negara-negara yang sama sekali tidak bersalah. Namun, hanya dua hari setelah diumumkan pada Minggu lalu, Trump menyatakan operasi tersebut akan dijeda untuk waktu singkat guna melihat peluang tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran.
Selat Hormuz, jalur perairan yang menjadi titik transit sekitar 20 persen minyak dunia dan gas alam cair, sebagian besar masih tertutup sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari. Sebagai balasan, Iran memblokade jalur strategis tersebut. Kondisi ini menyebabkan sekitar 22.500 pelaut di atas 1.550 kapal komersial terjebak di kawasan Teluk. Kekhawatiran meningkat seiring menipisnya pasokan logistik serta dampak fisik dan mental yang dialami para awak kapal.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengerahkan kapal perusak berpemandu rudal, lebih dari 100 pesawat darat dan laut, platform nirawak multi-domain, serta 15.000 personel untuk mendukung operasi tersebut. Dalam pengarahan pada hari pertama operasi, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyebutkan bahwa kapal dari 87 negara tertahan di Teluk dan Amerika Serikat telah menghubungi puluhan kapal serta perusahaan pelayaran untuk mendorong arus transit. Meski demikian, belum jelas apakah Washington akan memberikan pengawalan militer langsung kepada kapal-kapal yang tertahan. Perusahaan pelayaran Maersk, bagaimanapun, mengonfirmasi bahwa salah satu kapalnya berhasil keluar dari Teluk dengan didampingi militer Amerika Serikat.
Ketegangan langsung terjadi beberapa jam setelah operasi dimulai pada Senin. Militer Iran mengaku telah melepaskan tembakan ke kapal perusak musuh Amerika dan Zionis Israel yang disebut mengabaikan peringatan. CENTCOM membantah klaim Iran bahwa kapal perang Amerika terkena dua rudal, tetapi mengonfirmasi bahwa Iran memang menembakkan rudal jelajah ke kapal perang AS dan kapal komersial berbendera Amerika. Drone dan kapal kecil juga dilaporkan digunakan untuk menyerang kapal komersial. Uni Emirat Arab menyatakan sebuah tanker yang berafiliasi dengan perusahaan minyak negara Adnoc menjadi sasaran dua drone saat melintasi Selat Hormuz. Tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, namun sedikitnya tiga pencegatan rudal dilaporkan terjadi. Sebuah serangan yang diduga menghantam kapal kargo Korea Selatan yang sedang berlabuh di dekat wilayah Emirat juga dilaporkan.
Komandan CENTCOM, Brad Cooper, mengatakan bahwa sebagian helikopter serang Amerika Serikat yang mendukung misi digunakan untuk menenggelamkan enam kapal kecil Iran yang menargetkan kapal sipil. Klaim ini dibantah oleh Teheran. Iran tetap bersikeras akan mengambil tindakan tegas terhadap kapal yang tidak menggunakan jalur pelayaran yang disetujui rezim di selat tersebut. Negosiator utama Iran juga menuduh Amerika Serikat justru membahayakan keamanan pelayaran dengan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Trump kemudian mengatakan pada Selasa bahwa penjedaannya dilakukan atas permintaan Pakistan, yang menjadi perantara negosiasi antara Washington dan Teheran bersama beberapa negara lain. Saat mengumumkan penundaan Project Freedom di media sosial, Trump mengklaim telah ada kemajuan besar menuju kesepakatan lengkap dan final dengan Iran. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap akan berada dalam blokade selama masa jeda. Media pemerintah Iran menyebut penundaan tersebut sebagai tanda bahwa Trump mundur setelah kegagalan berkelanjutan dalam upayanya membuka kembali jalur pelayaran penting dunia itu.
Sejumlah analis menilai rencana mengamankan pelayaran di Teluk akan sangat sulit dijalankan. Operasi semacam itu, menurut mereka, kemungkinan memerlukan opsi militer yang lebih kuat dan lebih agresif apabila benar-benar ingin memastikan kapal bisa melintas. Konsensus umum di kalangan pengamat adalah dimulainya kembali permusuhan hanya tinggal soal waktu. Pakar lain menilai operasi Amerika Serikat sangat berisiko dan berpotensi meningkatkan eskalasi. Mereka menambahkan bahwa sekalipun Project Freedom berhasil mengeluarkan sebagian kapal dari selat, hasilnya hanya akan menjadi kelegaan sementara karena dibutuhkan upaya yang jauh lebih berkelanjutan untuk benar-benar membuka jalur tersebut.
Dalam pengarahan pada Selasa, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan bahwa gencatan senjata belum berakhir. "Ini adalah proyek yang terpisah dan berbeda," katanya. Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menambahkan bahwa meskipun Iran telah sembilan kali menembaki kapal komersial, menyita dua kapal kontainer, dan menyerang pasukan Amerika Serikat sepuluh kali sejak gencatan senjata 8 April, tindakan tersebut masih berada di bawah ambang dimulainya kembali operasi tempur besar untuk saat ini.
Artikel Terkait
Dolar AS Tertekan di Tengah Optimisme Kesepakatan Damai AS-Iran
Knowledge Graph Ubah Koleksi Kebun Raya Jadi Sistem Peringatan Dini Banjir
Santri Gresik Ditemukan Tewas Gantung Diri Usai Ditegur Pengasuh Pondok
Anies: Kepercayaan Publik Runtuh Saat Pemimpin Utamakan Kepentingan Pribadi