Tiga Sosok di Balik Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama pada 17 Agustus 1945

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 05:15 WIB
Tiga Sosok di Balik Pengibaran Bendera Merah Putih Pertama pada 17 Agustus 1945

Jelang peringatan HUT ke-81 RI, sejarah pengibaran Bendera Merah Putih pada 17 Agustus 1945 kembali menjadi sorotan. Momen yang terjadi setelah pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, itu menjadi simbol lahirnya negara Indonesia yang merdeka. Di balik prosesi bersejarah tersebut, terdapat tiga sosok dengan peran penting yang memastikan bendera berkibar dengan khidmat.

Mereka adalah Latief Hendraningrat, Suhud Sastro Kusumo, dan SK Trimurti. Berasal dari latar belakang berbeda, ketiganya bahu-membahu mengawal jalannya upacara yang hanya berlangsung beberapa menit namun berdampak sepanjang masa.

Latief Hendraningrat, Pengerek Bendera

Latief Hendraningrat adalah perwira Pembela Tanah Air (PETA) berpangkat Chudancho. Dalam prosesi tersebut, ia bertugas menarik tali hingga Sang Saka Merah Putih berkibar di puncak tiang. Perannya ini menjadikannya salah satu figur paling dikenang dalam peristiwa Proklamasi.

Tanpa kehadirannya, momen sakral itu mungkin tidak akan berjalan mulus. Latief menjadi simbol keberanian dan keteguhan para pejuang yang siap mempertaruhkan segalanya demi kemerdekaan.

Suhud Sastro Kusumo, Pembentang Bendera

Suhud Sastro Kusumo, yang berasal dari Barisan Pelopor, memiliki tugas tak kalah penting: membentangkan Bendera Merah Putih sebelum dikerek ke tiang. Meski namanya tak sepopuler Latief, peran Suhud sangat menentukan kelancaran prosesi.

Minimnya dokumentasi pada masa awal kemerdekaan membuat kontribusi Suhud kurang dikenal publik. Saat itu, situasi masih penuh ketegangan sehingga pencatatan peristiwa tidak dilakukan secara menyeluruh. Namun, sejarah mencatat bahwa tanpa Suhud, bendera tak akan siap berkibar.

SK Trimurti, Perempuan di Balik Layar

Tokoh ketiga adalah SK Trimurti, pejuang perempuan sekaligus jurnalis. Ia bertugas membawa nampan berisi Bendera Merah Putih yang telah dilipat, lalu menyerahkannya kepada Latief dan Suhud untuk dikibarkan. Kehadirannya menjadi simbol keterlibatan perempuan dalam momen bersejarah ini.

Peran SK Trimurti masih menjadi bahan diskusi para sejarawan. Sejumlah catatan menyebutkan bahwa ia sempat diminta masyarakat yang hadir untuk ikut mengibarkan bendera. Namun, ia lebih dikenal sebagai pembawa nampan. Ada pula versi yang menyebut SK Trimurti memilih tidak menarik tali karena mengenakan kebaya dan jarik, sehingga tugas itu dinilai lebih tepat dilakukan oleh Latief yang seorang prajurit.

Terlepas dari berbagai versi, kontribusi SK Trimurti tetap diakui sebagai bagian penting dari prosesi pengibaran bendera pertama. Ketiga tokoh ini, dengan peran masing-masing, telah mengabadikan momen yang menjadi fondasi bagi perjalanan bangsa Indonesia. Kisah mereka layak dikenang, terutama di tengah semangat memperingati kemerdekaan yang ke-81.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags