Mengenang Tokoh di Balik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

- Jumat, 31 Juli 2026 | 06:15 WIB
Mengenang Tokoh di Balik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus, masyarakat tidak hanya merayakan kemerdekaan, tetapi juga mengenang jasa para pahlawan yang berjuang mewujudkan Indonesia merdeka. Di balik pembacaan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945, terdapat sejumlah tokoh yang memainkan peran krusial, mulai dari menyusun naskah, mendorong percepatan kemerdekaan, hingga menyebarluaskan kabar proklamasi ke seluruh negeri.

Ir. Soekarno, yang akrab disapa Bung Karno, adalah salah satu tokoh sentral. Lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901, ia bersama Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo menyusun konsep teks proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Bung Karno kemudian menandatangani teks tersebut atas nama bangsa Indonesia bersama Hatta, dan membacakannya di kediamannya di Jalan Pengangsaan Timur No. 56, Jakarta.

Mohammad Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902, turut menyusun dan menandatangani teks proklamasi. Ia juga yang mengusulkan kalimat "hal-hal tentang pemindahan kekuasaan dan lain-lain dilaksanakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya". Hatta mendampingi Soekarno dalam upacara proklamasi dengan pakaian serba putih. Ia wafat pada 14 Maret 1980 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Achmad Soebardjo, lahir di Teluk Jambe, Karawang, pada 23 Maret 1896, berperan membawa Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta setelah dibawa paksa pemuda ke Rengasdengklok. Ia berhasil membujuk para pemuda untuk melepaskan keduanya dan meyakinkan bahwa proklamasi akan segera dilaksanakan.

Laksamana Tadashi Maeda, perwira tinggi Angkatan Laut Jepang, membantu persiapan konsep teks proklamasi dengan mengizinkan rumahnya digunakan sebagai tempat pertemuan para tokoh bangsa. Meskipun orang Jepang, ia simpati terhadap perjuangan Indonesia.

Sukarni, lahir di Blitar pada 14 Juli 1916, termasuk golongan muda yang menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Selama di sana, keduanya didesak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan selambat-lambatnya 17 Agustus 1945. Akhirnya, mereka setuju dan dibawa kembali ke Jakarta oleh Achmad Soebardjo.

Fatmawati, istri ketiga Soekarno dan ibu negara pertama (1945–1967), berjasa menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan saat upacara proklamasi.

Sayuti Melik, lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 22 November 1908, dikenal sebagai pengetik naskah proklamasi. Ia juga mengubah kalimat "wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "atas nama bangsa Indonesia" dalam konsep naskah.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags