"Ya mencukupi. Soalnya kan warga kami nggak semua di rumah pas Jumat. Ada yang kerja di luar. Yang datang ke musala biasanya sekitar 200 sampai 250 jemaah," bebernya. Untuk salat wajib harian, warga juga menyebar ke beberapa musala lain di tingkat RT dan di Pasar Argowijil.
Rewang Dwi Atmojo, sesepuh berusia 72 tahun, membenarkan kondisi itu. Ia ditemui Selasa (6/1) dan menyebut pemindahan ke Musala Karim Al Gari memang untuk menampung jumatan satu kampung.
"Bahkan satu kalurahan saja kalau ada event-event butuh tempat di masjid, yang dipakai masjid ini," kata Dwi.
Ucapannya itu menyiratkan betapa sentralnya fungsi Masjid Al-Huda dulu. Bukan cuma untuk warga satu pedukuhan, tapi juga kerap menjadi tuan rumah acara-acara desa yang lebih besar. Kini, sambil menunggu kejelasan pembangunan, warga hanya bisa beradaptasi dan berharap.
Artikel Terkait
Saldo Rp 500 Ribu: Ironi Kas Daerah di Balik Gaya Gubernur Jabar
KPK Tunggu Audit BPK untuk Tentukan Kerugian Negara dari Kasus Kuota Haji
Warkop di Bundaran HI Ditegur, Meja Kursi di Trotoar Harus Minggir
Pertemuan Solo: Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Bertamu, Koalisi Penggugat Retak