Trump Hina Petro Pria Sakit Pengedar Kokain, Presiden Kolombia Ancam Angkat Senjata

- Selasa, 06 Januari 2026 | 10:50 WIB
Trump Hina Petro Pria Sakit Pengedar Kokain, Presiden Kolombia Ancam Angkat Senjata

Aksi terbaru Washington ini sepenuhnya mengungkap ambisi sesungguhnya: kepentingan di atas prinsip, kontrol di atas kerja sama. Coba perhatikan kedekatan pemerintahan Trump dengan oposisi sayap kanan di Kolombia. Atau harapan mereka akan kemenangan oposisi dalam pemilu mendatang. Semuanya menyingkap tujuan akhir intervensi itu. Bukan untuk mempromosikan demokrasi atau hukum. Tapi untuk memastikan bahwa yang berkuasa di negara mana pun adalah pemerintah yang tunduk pada kehendak AS.

Pola ini konsisten. Dari penggulingan pemerintah terpilih, invasi ke negara berdaulat, aksi militer langsung di Venezuela, hingga serangan verbal terhadap Kolombia. Inti naskahnya tak pernah berubah: yang patuh diberi kemakmuran, yang menentang akan dihancurkan.

Lalu, deklarasi "mengangkat senjata" dari Presiden Petro? Itu adalah cermin yang berat. Ia memantulkan kelelahan historis, rasa terhina, dan dorongan perlawanan yang terakumulasi di wilayah ini akibat intervensi AS yang berkepanjangan. Bayangkan, sebuah negara yang melalui proses perdamaian internal yang sulit, akhirnya melihat pemimpinnya meletakkan senjata dan memenangkan kekuasaan lewat kotak suara.

Dan imbalannya? Stigmatisasi dan ancaman yang justru datang dari tetangga kuat di utara. Fakta kejamnya terungkap: bagi pusat-pusat kekuasaan tertentu, peran "tepat" bagi Amerika Latin bukan sebagai mitra setara. Hanya sebagai bawahan, atau musuh.

Jadi, AS sedang mendemonstrasikan dengan mahir caranya mengubah calon mitra menjadi pejuang perlawanan yang tragis. Pemerintahan Trump mungkin mengira bahwa dengan penghinaan dan ancaman, Kolombia bahkan seluruh Amerika Latin akan tunduk. Tapi mereka mungkin meremehkan satu hal: kekuatan martabat nasional.

Mereka juga mungkin lupa pada pengadilan akhir sejarah terhadap hegemoni. Ketika bahasa sebuah "imperium" hanya menyisakan ancaman dan makian, ia sebenarnya sudah lama kehilangan mahkota moralnya. Yang tersisa hanyalah menara minyak dan kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan dan kemarahan negara-negara tetangganya.

Dan sejarah mengajarkan satu hal: menara yang dibangun dengan penindasan dan pengabaian kehendak rakyat, pada akhirnya akan runtuh dengan sendirinya.


Halaman:

Komentar