“Tentara yang saya harapkan nasionalismenya lebih tinggi dari yang lain ditenteng oleh oligarki untuk menggusur, merampok rakyat,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut pelaku di lapangan adalah alumni Lemhanas yang sekelas dengan para jenderal tadi. Unsur etnis tertentu juga disebutnya ikut terlibat dalam aksi penggusuran tersebut.
Di sisi lain, Said Didu mengaku tetap mendukung Presiden Prabowo Subianto. Dukungan itu punya lima catatan: pemberantasan korupsi, pembonsaian oligarki, pemerintahan bersih, pengambilalihan aset negara, serta pembersihan aparat hukum.
Tapi ia juga tak sungkan mengkritik. Kedekatan Prabowo dengan mantan Presiden Jokowi disebutnya bagai “racun” yang harus dijauhi. Harapannya jelas, Prabowo bisa lepas dari pengaruh itu.
“Biang kerok masalah adalah geng Solo, oligarki, parcok. Itu biang kerok masalah yang harus tertanam di kepala bahwa inilah perusak negara,” tandasnya tegas.
Sebagai mantan orang dekat keluarga Soeharto, wajar jika ia membela beberapa kebijakan Orde Baru. Ia bercerita, antara 1993 hingga 1996, dirinya digaji dua juta rupiah per bulan hanya untuk menemani Soeharto ngobrol.
Ia pun membela almarhumah Ibu Tien Soeharto. Pembangunan TMII dan RS Harapan Kita, menurutnya, semata-mata untuk kepentingan rakyat banyak.
Harapan terakhirnya, Prabowo mau mengadopsi gaya kepemimpinan Soeharto, juga Soemitro ayahandanya. Tujuannya satu: mengembalikan keutuhan NKRI seperti masa sebelum reformasi 1998 bergulir.
Artikel Terkait
Bos Kejahatan Cyber Chen Zhi Diekstradisi dari Kamboja, Aset Triliunan Rupiah Disita
Perselingkuhan Berulang: Kapan Batas Kesabaran dalam Rumah Tangga?
Prabowo Tegaskan Bonus Rp 456 Miliar untuk Atlet SEA Games Bukan Upah, Melainkan Tabungan Masa Depan
Perutmu Bisa Jadi Korban dari Terlalu Banyak Baca Berita Politik