Invasi AS ke Venezuela: Presiden Berbahaya untuk Taiwan?

- Selasa, 06 Januari 2026 | 07:50 WIB
Invasi AS ke Venezuela: Presiden Berbahaya untuk Taiwan?

Lihatlah kasus Venezuela. Ketika AS dituduh melanggar, kanal sanksi terkuat justru harus melalui Dewan Keamanan. Dan siapa yang bisa memveto langkah apa pun terhadap AS? Ya, AS sendiri. Rapat darutat pun akhirnya cuma jadi panggung politik, bukan mekanisme penegakan hukum.

Taiwan memperlihatkan disfungsi yang sama, cuma dari sisi lain. China memegang kursi "China" di DK PBB, sementara Taiwan bukan anggota. Jadi, upaya menekan Beijing di PBB bisa mentok oleh veto China persis seperti upaya menekan AS mentok oleh veto AS. Pesannya jelas: yang menentukan "bisa dihukum atau tidak" bukan beratnya pelanggaran, tapi siapa yang duduk di kursi tetap.

Lampu Kuning untuk Taiwan?

Dalam suasana norma yang melemah ini, peluang invasi China ke Taiwan terasa makin masuk akal. Serangan AS ke Venezuela memberi pelajaran pahit: larangan penggunaan kekuatan di Piagam PBB terdengar tegas, tapi penegakannya seringkali omong kosong. Ketika tindakan sebesar itu tak memicu konsekuensi serius, ia berubah jadi preseden yang mengundang peniru.

Taiwan lalu menjadi ujian berikutnya. Statusnya memang abu-abu. Bukan anggota PBB, tapi punya pemerintahan dan ciri negara yang nyata. Celah inilah yang memberi Beijing ruang untuk membingkai ulang. Tindakan militer bisa mereka kemas sebagai "urusan domestik", sekalipun bagi banyak pakar itu tetap melanggar prinsip dasar.

Kesiapan militer China juga makin terlihat. Latihan besar-besaran, simulasi blokade, ancaman menggunakan cara "non-damai". Taiwan merespons dengan memperkuat pertahanan. AS membantu, tapi tetap menjaga ambiguitas yang berbahaya: apakah mereka akan turun langsung jika serangan terjadi? Kombinasi ini rawan salah hitung. Dan jika benar-benar terjadi, dampaknya akan luar biasa. Selat Taiwan bukan cuma perairan biasa itu jalur dagang utama dan pusat rantai pasok semikonduktor dunia.

Dampak Riil: Rakyat yang Terhimpit

Sementara elite bertarung, dampak bagi warga Venezuela tetap brutal dan riil. Krisis di sana sudah lama menciptakan salah satu gelombang migrasi terbesar di Amerika Latin. Jutaan orang pergi karena ekonomi ambruk dan negara kolaps dari dalam. Serangan AS dan penangkapan Maduro hanya menambah lapisan ketidakpastian baru: kekerasan lanjutan, arus pengungsi yang makin deras, dan risiko warga sipil terseret dalam konflik yang bukan mereka buat.

Kolombia dan Brasil menanggung beban terberat. Negara-negara penerima lain menghadapi pasar kerja yang membengkak dan layanan publik yang tersedak. Ketakutan di kawasan Amerika Latin pun wajar. Serangan ini membangkitkan memori kelam, saat kawasan ini diperlakukan hanya sebagai "halaman belakang".

Kuba bereaksi keras. Kolombia cemas. Dan ketika Washington bicara soal "mengelola" Venezuela pasca-invasi, kecurigaan makin menebal.

Lalu ada sikap Rusia, China, dan Iran. Mereka membaca Venezuela sebagai panggung untuk menahan laju pengaruh AS. Rusia jadi tameng politik dan militer. China menopang dari sisi ekonomi dan diplomasi. Iran menunjukkan solidaritas antisanksi. Konflik ini telah berubah jadi ajang adu pengaruh yang rawan menjadi proxy conflict. Yang dipertaruhkan sekarang bukan cuma nasib Caracas, melainkan sisa-sisa kredibilitas aturan global yang kita punya.

(Pendiri Cendikia Demokrasi Indonesia dan Akademisi Prodi Administrasi Negara Universitas Pamulang)


Halaman:

Komentar