Oleh: Heru Wahyudi
Invasi Amerika Serikat ke Venezuela awal Januari 2026 itu menyampaikan pesan yang keras. Ketika sebuah negara adidaya merasa perlu, kedaulatan bisa dilangkahi. Begitu mudahnya. Dan mereka tak perlu repot-repot mencari restu dari Dewan Keamanan PBB. Efeknya langsung merambat cepat, hingga ke Taiwan. Nah, inilah yang berbahaya. Jika langkah sepihak semacam ini dibiarkan, Beijing punya contoh nyata: aturan main internasional bisa dinegosiasikan dengan kekuatan, bukan dengan hukum.
Venezuela dan Taiwan, dua panggung yang berbeda, tapi sepertinya bagian dari konflik yang sama. Semuanya berpusat pada pertanyaan klasik: siapa yang boleh melanggar, siapa yang harus patuh, dan siapa berhak mengklaim dunia ini masih berjalan atas "tatanan berbasis aturan"?
Operasi militer AS, yang mereka beri nama "Absolute Resolve", jauh dari sekadar tekanan politik. Ini eskalasi penuh. Mereka menyerang instalasi militer, diduga memadamkan listrik, melancarkan operasi siber untuk melumpuhkan Caracas, dan akhirnya menangkap Presiden Nicolás Maduro. Dalam kacamata hukum internasional, garisnya sudah jelas dilanggar: ini agresi. Piagam PBB melarang penggunaan kekuatan, kecuali untuk bela diri atau ada mandat DK PBB. Dasar bela diri sulit dibuktikan di sini, mandat juga tak ada. Jadi, yang tersisa cuma legitimasi sepihak. Logika "karena kami bisa".
Dan itu melukai inti hukum internasional.
Pelanggaran yang Menciptakan Presiden Berbahaya
Serangan itu bukan cuma melanggar Piagam PBB. Tapi juga merusak "kebiasaan" yang selama ini sedikit banyak menahan negara besar agar tidak bertindak semaunya. Menangkap kepala negara yang sedang menjabat, lalu menyeretnya ke pengadilan domestik si penyerang? Itu sinyal mengerikan. Kedaulatan dan imunitas seolah jadi formalitas belaka.
Reaksi dunia pun terbelah. Beberapa negara Amerika Latin yang anti-Maduro mungkin lega, tapi di balik itu ada kecemasan mendalam. Kalau standar kedaulatan bisa dilompati sekali, efek dominonya bisa kemana-mana. Negara lain, seperti Malaysia dan beberapa pemimpin Eropa, bersikap lebih tegas. Mereka menegaskan: masalah demokrasi dan HAM tidak otomatis jadi tiket untuk serangan sepihak.
Rusia dan China paling vokal menyerang narasi "penegakan hukum" ala Washington. Mereka menyebutnya gaya koboi dan pergantian rezim terselubung. Kritik mereka tentu bukan murni idealisme. Ini juga peringatan: Venezuela dijadikan uji coba untuk mengukur sejauh mana unilateralisme AS akan ditolerir.
Yang berbahaya, preseden ini memantul langsung ke Taiwan. Jika AS bisa menerobos kedaulatan Venezuela tanpa hukuman berarti, Beijing punya alasan untuk berkata, "Kalau begitu, kami juga bisa." Dalihnya: integritas teritorial. Selama ini, biaya politik dan hukum adalah rem yang menahan China. Sekarang, rem itu terlihat rapuh.
Hak Veto: Tombol "Stop" yang Melumpuhkan
Secara aturan, arsitektur hukum internasional sebenarnya jelas. Larangan penggunaan kekuatan itu mutlak. Masalahnya ada pada penegakan atau lebih tepatnya, ketiadaan penegakan. Dan ketika penegakan bersifat selektif, hukum berubah jadi bahasa moral yang hanya mengikat pihak yang lemah.
Di sinilah hak veto di Dewan Keamanan PBB jadi inti masalah. Itu adalah "tombol stop" milik lima anggota tetap: AS, Rusia, China, Prancis, dan Inggris. Satu veto bisa menjatuhkan resolusi yang didukung hampir semua negara. Imbasnya, DK PBB bisa macet total hanya karena satu negara punya kepentingan di dalamnya.
Lihatlah kasus Venezuela. Ketika AS dituduh melanggar, kanal sanksi terkuat justru harus melalui Dewan Keamanan. Dan siapa yang bisa memveto langkah apa pun terhadap AS? Ya, AS sendiri. Rapat darutat pun akhirnya cuma jadi panggung politik, bukan mekanisme penegakan hukum.
Taiwan memperlihatkan disfungsi yang sama, cuma dari sisi lain. China memegang kursi "China" di DK PBB, sementara Taiwan bukan anggota. Jadi, upaya menekan Beijing di PBB bisa mentok oleh veto China persis seperti upaya menekan AS mentok oleh veto AS. Pesannya jelas: yang menentukan "bisa dihukum atau tidak" bukan beratnya pelanggaran, tapi siapa yang duduk di kursi tetap.
Lampu Kuning untuk Taiwan?
Dalam suasana norma yang melemah ini, peluang invasi China ke Taiwan terasa makin masuk akal. Serangan AS ke Venezuela memberi pelajaran pahit: larangan penggunaan kekuatan di Piagam PBB terdengar tegas, tapi penegakannya seringkali omong kosong. Ketika tindakan sebesar itu tak memicu konsekuensi serius, ia berubah jadi preseden yang mengundang peniru.
Taiwan lalu menjadi ujian berikutnya. Statusnya memang abu-abu. Bukan anggota PBB, tapi punya pemerintahan dan ciri negara yang nyata. Celah inilah yang memberi Beijing ruang untuk membingkai ulang. Tindakan militer bisa mereka kemas sebagai "urusan domestik", sekalipun bagi banyak pakar itu tetap melanggar prinsip dasar.
Kesiapan militer China juga makin terlihat. Latihan besar-besaran, simulasi blokade, ancaman menggunakan cara "non-damai". Taiwan merespons dengan memperkuat pertahanan. AS membantu, tapi tetap menjaga ambiguitas yang berbahaya: apakah mereka akan turun langsung jika serangan terjadi? Kombinasi ini rawan salah hitung. Dan jika benar-benar terjadi, dampaknya akan luar biasa. Selat Taiwan bukan cuma perairan biasa itu jalur dagang utama dan pusat rantai pasok semikonduktor dunia.
Dampak Riil: Rakyat yang Terhimpit
Sementara elite bertarung, dampak bagi warga Venezuela tetap brutal dan riil. Krisis di sana sudah lama menciptakan salah satu gelombang migrasi terbesar di Amerika Latin. Jutaan orang pergi karena ekonomi ambruk dan negara kolaps dari dalam. Serangan AS dan penangkapan Maduro hanya menambah lapisan ketidakpastian baru: kekerasan lanjutan, arus pengungsi yang makin deras, dan risiko warga sipil terseret dalam konflik yang bukan mereka buat.
Kolombia dan Brasil menanggung beban terberat. Negara-negara penerima lain menghadapi pasar kerja yang membengkak dan layanan publik yang tersedak. Ketakutan di kawasan Amerika Latin pun wajar. Serangan ini membangkitkan memori kelam, saat kawasan ini diperlakukan hanya sebagai "halaman belakang".
Kuba bereaksi keras. Kolombia cemas. Dan ketika Washington bicara soal "mengelola" Venezuela pasca-invasi, kecurigaan makin menebal.
Lalu ada sikap Rusia, China, dan Iran. Mereka membaca Venezuela sebagai panggung untuk menahan laju pengaruh AS. Rusia jadi tameng politik dan militer. China menopang dari sisi ekonomi dan diplomasi. Iran menunjukkan solidaritas antisanksi. Konflik ini telah berubah jadi ajang adu pengaruh yang rawan menjadi proxy conflict. Yang dipertaruhkan sekarang bukan cuma nasib Caracas, melainkan sisa-sisa kredibilitas aturan global yang kita punya.
(Pendiri Cendikia Demokrasi Indonesia dan Akademisi Prodi Administrasi Negara Universitas Pamulang)
Artikel Terkait
Air Terjun Kali Jodoh di Pinrang: Pesona Alam dan Mitos Pencarian Jodoh yang Ramai Dikunjungi
Tiga Buronan KKB Yahukimo Dibawa ke Jayapura untuk Proses Hukum
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India
OSO Ungkap Kedekatan dengan Mahfud MD Berawal dari Persahabatan Lama dan Kesamaan Visi