Menggali Psikologi Siswa: Mampukah Kurikulum Kita Lebih Manusiawi?

- Selasa, 06 Januari 2026 | 01:06 WIB
Menggali Psikologi Siswa: Mampukah Kurikulum Kita Lebih Manusiawi?

Di sisi lain, peluang untuk perubahan itu ada. Tren pendidikan yang berpusat pada siswa atau student-centered learning mulai banyak dibicarakan. Pendekatan ini menjadikan siswa sebagai aktor utama, bukan sekadar penerima pasif. Kurikulum bisa dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan, kebutuhan emosional, dan motivasi intrinsik mereka.

Metode seperti pembelajaran proyek, diskusi kelompok, atau refleksi diri, misalnya, bisa membantu mengasah nalar kritis sekaligus kecerdasan emosional. Peran guru pun bergeser. Ia bukan lagi sekadar penyampai materi, tetapi lebih sebagai fasilitator dan pendamping yang peka.

Seorang guru yang memahami psikologi pendidikan akan lebih mudah mendeteksi kesulitan siswa dan menciptakan ruang belajar yang aman serta mendukung.

Tentu jalan menuju ke sana tidak mulus. Salah satu rintangan terbesar adalah kesiapan guru sendiri. Tidak semua pendidik cukup terlatih dalam konsep dan pendekatan psikologi pendidikan. Sistem evaluasi nasional yang masih berkutat pada angka dan ujian standar juga menjadi ganjalan serius. Kurikulum yang menghargai proses membutuhkan penilaian holistik lewat portofolio atau penilaian autentik yang belum sepenuhnya diterapkan.

Pada akhirnya, kurikulum berbasis psikologi pendidikan bukanlah sekadar mimpi indah. Ia adalah sebuah kebutuhan mendesak di tengah kompleksitas dunia pendidikan kita sekarang. Dengan memahami karakter psikologis siswa, kita bisa menciptakan sistem yang lebih manusiawi, inklusif, dan pada ujungnya, lebih efektif.

Mewujudkannya tentu butuh komitmen kolektif. Dari pembuat kebijakan, para guru, hingga masyarakat luas. Jika psikologi pendidikan benar-benar dijadikan fondasi, bukan tidak mungkin pendidikan kita akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental dan emosional.


Halaman:

Komentar