Ia melanjutkan dengan nada tegas,
“Kenapa? karena jika cuma politik uang yang ditakutkan, sangat mudah sekali bagi aparat penegak hukum untuk memantaunya.”
Tak berhenti di situ, Gus Aan menyindir partai-partai yang menolak gagasan ini. Ia menduga penolakan itu muncul karena mereka tak mendengar suara akar rumput.
“Atau memang minim kader di daerah, sehingga aspirasi rakyat tidak sampai ke pusat,”
cetusnya.
Di akhir, ia meyakini bahwa langkah ini adalah solusi. Menurut Gus Aan, memilih kepala daerah lewat DPRD bisa menata ulang demokrasi kita. Ini jadi jalan menuju Indonesia Emas 2045. Sebuah cita-cita besar yang, baginya, butuh fondasi sistem yang tepat.
Artikel Terkait
Toko Kosmetik di Ciracas Diduga Jadi Peredar Gelap Tramadol
Tito Karnavian Gagas Siswa Kedinasan Jadi Ujung Tombak Pemulihan Pascabencana
Pasca-Bencana, Pembersihan Kompleks Perkantoran Aceh Tamiang Capai 30 Persen
Status Anak Asuh Arkana Tak Tersentuh Putusan Perceraian Ridwan Kamil-Atalia