Operasi mendadak di Caracas berakhir dengan sukses. Nicolás Maduro ditangkap. Tapi, sorotan Washington tampaknya belum akan padam. Kini, mata Amerika Serikat beralih ke sebuah pulau di Karibia: Kuba.
Hanya beberapa jam setelah pasukan khusus AS bergerak di Venezuela, Presiden Donald Trump sudah angkat bicara. Secara terbuka, ia menyebut Kuba sebagai negara berikutnya yang akan "dibicarakan". Bahkan, ia mencapnya sebagai "negara gagal". Bagi banyak analis, label itu bukan sekadar kritik biasa. Itu terdengar seperti pembenaran politik, sebuah sinyal untuk intervensi yang mungkin akan menyusul.
Menurut Andrey Kortunov dari Valdai Discussion Club, pernyataan Trump itu adalah peringatan serius untuk Havana.
"Kuba telah lebih dari 60 tahun menjadi lawan tradisional Amerika Serikat di Amerika Latin. Berbeda dengan Venezuela, rezim Kuba jauh lebih mapan dan stabil. Namun tekanan semacam ini hampir pasti akan mendorong Havana mendekat ke Moskow," ujarnya.
Kortunov menambahkan, kalau situasi memanas, Kuba hampir pasti akan meminta lebih banyak bantuan. Mulai dari dukungan teknis hingga militer, dan Rusia punya semua alasan untuk menyambutnya. Bagi Moskow, ini peluang emas untuk memperkuat cengkeramannya di halaman belakang AS.
Ancaman ini bukan datang sendirian. Ia muncul bersamaan dengan retorika Trump yang menghidupkan kembali semangat Doktrin Monroe versi yang lebih keras. Presiden AS itu dengan tegas menyatakan kesiapannya untuk mengirim pasukan darat ke mana pun di belahan bumi ini, jika kepentingan Amerika diganggu.
Di sisi lain, Kuba bukan satu-satunya yang dapat peringatan. Meksiko dan Kolombia juga disebut-sebut. Ini jelas menunjukkan tekanan AS di Amerika Latin sedang meluas, pasca-invasi Venezuela. Yang dikhawatirkan sekarang adalah efek domino. Eskalasi konflik regional jadi ancaman nyata, dan rivalitas lama AS-Rusia berpotensi menyala kembali dengan panasnya.
Jadi, apa yang akan terjadi? Kalau tekanan terhadap Havana terus digencarkan, Amerika Latin mungkin akan memasuki babak baru. Sebuah fase ketegangan politik dan militer, dengan Kuba sekali lagi menjadi pusatnya. Mirip seperti era Perang Dingin dulu, di mana pulau kecil itu menjadi ajang pertarungan pengaruh global. Situasinya memang berbeda, tapi nuansanya terasa sama: mencemaskan.
Artikel Terkait
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Pick Up India
Tes Urine Massal di Polres Jakarta Pusat, Satu Personel Positif Codeine karena Obat Batuk