Kortunov menambahkan, kalau situasi memanas, Kuba hampir pasti akan meminta lebih banyak bantuan. Mulai dari dukungan teknis hingga militer, dan Rusia punya semua alasan untuk menyambutnya. Bagi Moskow, ini peluang emas untuk memperkuat cengkeramannya di halaman belakang AS.
Ancaman ini bukan datang sendirian. Ia muncul bersamaan dengan retorika Trump yang menghidupkan kembali semangat Doktrin Monroe versi yang lebih keras. Presiden AS itu dengan tegas menyatakan kesiapannya untuk mengirim pasukan darat ke mana pun di belahan bumi ini, jika kepentingan Amerika diganggu.
Di sisi lain, Kuba bukan satu-satunya yang dapat peringatan. Meksiko dan Kolombia juga disebut-sebut. Ini jelas menunjukkan tekanan AS di Amerika Latin sedang meluas, pasca-invasi Venezuela. Yang dikhawatirkan sekarang adalah efek domino. Eskalasi konflik regional jadi ancaman nyata, dan rivalitas lama AS-Rusia berpotensi menyala kembali dengan panasnya.
Jadi, apa yang akan terjadi? Kalau tekanan terhadap Havana terus digencarkan, Amerika Latin mungkin akan memasuki babak baru. Sebuah fase ketegangan politik dan militer, dengan Kuba sekali lagi menjadi pusatnya. Mirip seperti era Perang Dingin dulu, di mana pulau kecil itu menjadi ajang pertarungan pengaruh global. Situasinya memang berbeda, tapi nuansanya terasa sama: mencemaskan.
Artikel Terkait
Heboh Video Bocil Block Blast: Penasaran yang Dijebak Phishing
Paris Membeku dalam Riang: Salju Ubah Kota Cahaya Jadi Arena Bermain
Status Darurat Sampah Tangsel Diperpanjang Dua Pekan Lagi
Bareskrim Ungkap 21 Situs Judi Online Berkedok Perusahaan Fiktif, Uang Sitaan Tembus Rp59 Miliar