Bibit Siklon Tropis 91S Menguat, BMKG Peringatkan Dampak hingga Pesisir Jawa

- Senin, 05 Januari 2026 | 10:18 WIB
Bibit Siklon Tropis 91S Menguat, BMKG Peringatkan Dampak hingga Pesisir Jawa

Pada awal tahun 2026, cuaca di kawasan Samudera Hindia mulai menunjukkan gelagat yang serius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terbentuknya Bibit Siklon Tropis 91S, Senin (5/12). Pemantauan intensif dilakukan sejak 3 Januari pukul 18.00 UTC atau 01.00 WIB dini hari.

Menurut pernyataan resmi BMKG, bibit badai yang berada dalam pengawasan TCWC Jakarta ini punya peluang tinggi untuk berkembang jadi siklon tropis penuh. "Bibit Siklon Tropis 91S memiliki peluang Tinggi untuk menjadi siklon tropis dan bergerak ke arah selatan-tenggara, menjauhi wilayah Indonesia dalam 24 jam ke depan," jelas mereka.

Untungnya, pergerakannya diprakirakan menjauh. Namun begitu, kehadirannya di laut barat daya Lampung tetap mesti diwaspadai. Data terakhir menunjukkan kecepatan angin maksimum mencapai 65 km/jam dengan tekanan udara minimum 998 hPa.

Dampak yang Mesti Diantisipasi

Meski diprediksi akan menjauh, efek tidak langsung dari 91S ini tidak bisa dianggap enteng. BMKG memaparkan sejumlah dampak yang bakal terasa hingga 6 Januari 2026 mendatang, terutama terkait cuaca ekstrem dan kondisi laut.

Angin kencang, misalnya, berpotensi menerjang sejumlah wilayah. Pesisir barat Bengkulu dan Lampung adalah daerah yang paling perlu bersiap.

Di sisi lain, gelombang laut juga diprakirakan meningkat. Ketinggian 1.25 hingga 2.5 meter atau kategori moderate sea berpeluang terjadi di beberapa perairan. Mulai dari perairan barat Kepulauan Mentawai, menyusur hingga Lampung, lalu perairan selatan Pulau Jawa, termasuk Selat Sunda bagian selatan. Wilayah Samudera Hindia selatan Jawa dan barat Aceh hingga Bengkulu juga ikut terdampak.

Yang lebih mengkhawatirkan, gelombang dengan ketinggian 2.5 sampai 4 meter atau rough sea berpotensi muncul di Samudera Hindia barat Lampung. Kondisi ini jelas berbahaya bagi aktivitas pelayaran.

Jadi, meski pusat badainya bergerak menjauh, masyarakat di pesisir dan para nelayan diimbau untuk tetap waspada. Informasi dari BMKG perlu terus dipantau untuk keselamatan bersama.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar