Indonesia itu kaya. Luar biasa kaya, bukan cuma soal alam, tapi juga cara orang-orangnya menghadapi satu hal yang pasti: kematian. Di sini, pemakaman jarang yang sederhana. Lebih sering, ia adalah sebuah ritual sakral yang penuh doa, simbol, dan warisan nilai yang mengakar jauh.
Ambil contoh Tana Toraja. Di sana, kematian itu dipandang sebagai sebuah perjalanan panjang, bukan titik akhir yang mendadak. Jenazah bisa disemayamkan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, menunggu keluarga siap secara adat dan ekonomi. Baru kemudian digelar Rambu Solo’, sebuah prosesi megah yang menghadirkan tarian, nyanyian, dan penyembelihan kerbau. Hewan itu dipercaya bakal menjadi kendaraan roh menuju alam baka.
Lain lagi ceritanya di Bali. Bagi umat Hindu di pulau dewata, upacara Ngaben adalah bentuk pemurnian. Api yang menyala-nyala menjadi simbol pelepasan, membebaskan roh dari ikatan duniawi agar bisa kembali ke asal-usulnya. Jadi, Ngaben bukan sekadar acara duka. Ia lebih merupakan sebuah jalan suci menuju keseimbangan spiritual.
Kalau ke tanah Batak, kita akan menemukan Saur Matua. Upacara ini khusus untuk orang tua yang wafat dalam kondisi sempurna setelah melihat anak dan cucunya tumbuh dewasa. Suasana duka bercampur syukur. Iringan gondang dan tarian adat menggema, bukan sebagai ratapan, melainkan sebagai penghormatan atas sebuah kehidupan yang dianggap paripurna.
Peti jenazah diusung oleh keluarga dan kerabat. Warna merah dan emas dari ulos yang mereka kenakan mencolok di antara kerumunan. Ritualnya khidmat, penuh makna, benar-benar sebuah penghormatan terakhir yang layak.
Artikel Terkait
Cuaca Makassar Diprediksi Cerah Berawan Sepanjang Minggu, 12 April 2026
Warga Rokan Hilir Amuk Rumah Diduga Bandar Narkoba, Polisi Janji Usut Tuntas
Makassar Tinggalkan Open Dumping, Beralih ke Sistem Sampah Berkelanjutan
Lapangan Gaspa Palopo Resmi Dibuka Usai Revitalisasi Senilai Rp 3,5 Miliar