Menyeberang ke Kalimantan, suku Dayak punya cara unik mereka sendiri: upacara Tiwah. Ini adalah ritual pemindahan tulang belulang leluhur ke rumah kecil bernama sandung. Mereka yang hadir biasanya mengenakan busana adat berwarna merah, dihiasi bulu-bulu. Prosesinya sakral, dengan keyakinan bahwa ini akan membantu mengantarkan roh dengan selamat menuju alam keabadian.
Sementara itu, di Papua, suku Dani pada masa lalu punya ekspresi duka yang sangat fisik. Pemotongan ruas jari adalah simbol kesedihan yang mendalam. Mereka juga mengawetkan jenazah leluhur, sebuah praktik yang menunjukkan betapa penghormatan itu tak berhenti setelah nafas terakhir.
Dari sekian banyak tradisi itu, satu hal yang jelas: bagi banyak masyarakat Indonesia, kematian bukan akhir segalanya. Ia justru menjadi ruang pertemuan yang khusyuk antara doa, budaya, dan rasa hormat kepada yang mendahului kita. Di tengah gempuran modernisasi, ritual-ritual semacam ini tetap bertahan. Mereka adalah pengingat nyata bahwa kearifan lokal dan nilai spiritual masih hidup, masih dirawat dengan sungguh-sungguh.
Pada akhirnya, tradisi pemakaman Nusantara ini bukan cuma soal melestarikan warisan masa lalu. Lebih dari itu, ia adalah cermin. Cermin tentang bagaimana bangsa ini menghargai kehidupan, bahkan dalam momen perpisahan yang paling akhir sekalipun.
Artikel Terkait
Hellyana Diperiksa 10 Jam, Status Resmi Jadi Tersangka Ijazah Palsu
Ramalan Kematian Trump di The Simpsons Ternyata Hoaks, Produser Buka Suara
Indonesia Dukung Upaya Saudi Fasilitasi Dialog Damai di Yaman Selatan
Mengapa Kita Lebih Mudah Berharap Daripada Bersyukur?