Yaman Selatan Siap Merdeka dalam Dua Tahun, Ancaman Deklarasi Dini Menggantung

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 13:42 WIB
Yaman Selatan Siap Merdeka dalam Dua Tahun, Ancaman Deklarasi Dini Menggantung

Suasana tegang kembali menyelimuti Yaman. Jumat lalu, kelompok separatis di sana mengumumkan rencana referendum kemerdekaan. Aidaros Alzubidi, Presiden Dewan Transisi Selatan (STC), menyatakan fase transisi menuju kemerdekaan penuh bakal memakan waktu dua tahun. Dalam kurun waktu itu, mereka berencana membuka dialog dengan kelompok Houthi yang menguasai kawasan utara.

Tapi jangan salah. Peringatannya juga keras. Alzubidi menegaskan, kelompoknya tak akan ragu mendeklarasikan kemerdekaan lebih cepat. Syaratnya, jika dialog tak kunjung terjadi atau jika Yaman selatan kembali diserang.

Dalam pernyataannya yang disiarkan televisi, Alzubidi secara khusus meminta dukungan dunia internasional.

"Dewan meminta komunitas internasional untuk mendukung dialog antara pihak-pihak yang terkait di utara dan selatan,"
"Deklarasi konstitusional ini akan dianggap segera berlaku dan langsung efektif sebelum tanggal tersebut, jika seruan tersebut tidak diindahkan atau jika warga di selatan, tanah mereka, atau pasukan mereka menjadi sasaran serangan militer,"

Gerakan STC belakangan ini memang makin agresif. Bulan lalu, pasukan mereka berhasil merebut sebagian besar wilayah Hadramout dan Al-Mahra. Serangan itu hampir tak menemui perlawanan berarti. Hadramout sendiri berbatasan langsung dengan Arab Saudi, sementara Al-Mahra bersebelahan dengan Oman.

Ini yang menarik. Situasi ini justru memicu ketegangan di antara sekutu-sekutu regional. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang selama bertahun-tahun mendukung berbagai faksi di Yaman, kini bersitegang. Aksi sepihak STC jelas membuat Riyadh geram, mempertajam perselisihan di antara kekuatan Teluk itu sendiri.

Pengumuman referendum itu sendiri muncul di tengah konflik yang memanas, terutama di Hadramout dan Al-Mahrah. Perebutan wilayah oleh STC menjadi pemicu perselisihan antara Saudi dan UEA.

Kalau rencana STC benar-benar terwujud, peta politik Yaman bisa berubah drastis. Negeri yang pernah terpisah menjadi utara dan selatan dari 1967 hingga 1990 itu berpotensi terbelah lagi. Dan dalam dua tahun ke depan, kita mungkin akan menyaksikan kelahiran sebuah negara baru yang mereka sebut "Arab Selatan". Masa depan Yaman, sekali lagi, digantungkan pada ketegangan dan diplomasi yang runyam.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar