Senja di Grobogan: Senyum dan Harapan Baru di Atas Becak Listrik

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 21:24 WIB
Senja di Grobogan: Senyum dan Harapan Baru di Atas Becak Listrik

Salah satunya datang dari Sukri, seorang penarik becak berusia 77 tahun asal Blora. Wajahnya sumringah saat ditemui di halaman Rumah Dinas Bupati Blora, beberapa waktu lalu. "Terima kasih Bapak Prabowo telah memperhatikan kita sebagai tukang becak ontel," ujarnya. "Sekarang udah dikasih becak listrik yang lebih bagus."

Harapannya, becak ini bisa menunjang kebutuhan sehari-harinya. Selama ini, narik becak ontel itu melelahkan, terutama kalau harus melalui tanjakan. "Kalau jalannya lurus masih lumayan. Tapi kalau naik, harus dorong. Kalau dipaksa ya gimana, sudah tua," keluhnya.

Pendapatannya dari becak kayuh paling banter Rp40 ribu sehari. Itu pun nggak setiap hari dapat. "Bahkan sampe enggak dapat sama sekali ya pernah," sambungnya. Makanya, bantuan ini sangat berarti. "Alhamdulillah, senang. Matur nuwun sama Pak Prabowo."

Ada satu hal yang memberatkan pikirannya. Istrinya sudah tiga tahun terbaring sakit setelah jatuh di kamar mandi. "Udah 11 kali terapi, 11 tempat itu," cerita Sukri. Rencana operasi sempat ada, tapi terkendala tekanan darah tinggi sang istri. Dengan becak listrik barunya, ia berharap bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk biaya pengobatan.

Di tempat yang sama, Slamet Riyadi (77) juga menyampaikan rasa terima kasih. "Terima kasih Pak Prabowo sudah dikasih bantuan becak listrik. Semoga Bapak panjang umur dan sehat selalu," ujar pria yang sudah 45 tahun mengandalkan becak ini.

Dia berharap bisa bekerja lebih lama dengan becak listrik. Soalnya, penumpang becak ontel sekarang makin jarang, sekalipun di lokasi yang ramai. Dengan bantuan ini, setidaknya ada harapan baru untuk terus mencari nafkah di sisa usianya.

Hingga saat ini, Yayasan GSN disebut telah membagikan lebih dari 5.000 unit becak listrik untuk para penarik becak lansia. Di Blora sendiri, ada 100 unit yang dibagikan lewat data dari Dinas Sosial setempat. Program ini memang ditujukan untuk meringankan beban kerja para pekerja informal yang sudah sepuh, sekaligus sedikit mengangkat produktivitas mereka. Bagi orang-orang seperti Yahman, Sulaksono, Sukri, dan Slamet, itu bukan sekadar bantuan. Itu secercah harapan.


Halaman:

Komentar