AS Buka Suara Usai Ledakan Guncang Caracas Tengah Malam

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 16:36 WIB
AS Buka Suara Usai Ledakan Guncang Caracas Tengah Malam

Ledakan Guncang Caracas di Tengah Malam

Suara dentuman keras mengoyak heningnya dini hari di Caracas, Sabtu (3/1) lalu. Bukan cuma sekali, tapi berturut-turut setidaknya tujuh kali menurut yang mendengar. Sasarannya? Pangkalan militer dan beberapa gedung pemerintahan. Tak lama setelah kejadian, Amerika Serikat dengan terbuka mengakui tanggung jawabnya atas serangan udara itu.

Respon dari Venezuela pun datang dengan nada keras. Lewat keterangan pers dari Kedutaan Besarnya di Indonesia, mereka menuding motif AS jauh lebih dalam dari sekadar operasi militer biasa.

"Tujuan serangan ini tidak lain adalah untuk merebut sumber daya strategis Venezuela, terutama minyak dan mineral, sebagai upaya untuk secara paksa menghancurkan kemerdekaan politik bangsa,"

Begitu bunyi pernyataan resmi mereka. Namun, di tengah tudingan itu, ada sikap keras yang coba ditunjukkan. Pemerintah Caracas meyakinkan bahwa semua upaya tersebut pada akhirnya akan sia-sia.

"Setelah lebih dari 200 tahun merdeka, rakyat dan pemerintah sah Venezuela tetap teguh mempertahankan kedaulatan serta hak yang tidak dapat dicabut untuk menentukan nasibnya sendiri,"

Laporan di lapangan menyebutkan, sejak pukul dua pagi, warga sudah melihat pesawat tempur AS terbang rendah di langit ibu kota. Situasinya memang sedang memanas. Aktivitas militer Amerika di kawasan itu belakangan makin menjadi, fokusnya menargetkan kapal-kapal yang dicurigai menyelundupkan narkoba di perairan Karibia dan Pasifik timur.

Menariknya, cuma dua hari sebelum serangan, Presiden Nicolas Maduro sempat menyuarakan sikap yang berbeda. Pada Kamis (1/1), dia menyatakan kesediaan Venezuela untuk bernegosiasi dengan AS. Ini terjadi setelah tekanan militer bertubi-tubi terkait tuduhan perdagangan narkoba yang dialamatkan kepada rezimnya.

Jadi, di satu sisi ada pintu dialog yang dikatakan terbuka, tapi di sisi lain, ledakan-ledakan justru yang lebih dulu berbicara. Situasinya rumit, dan ketegangan di udara terasa begitu nyata.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar