Kemarahan Hijau dan Tagihan Listrik
Di sisi lain, di dunia yang nyata, kemarahan lain tengah membara. Lebih dari 200 kelompok lingkungan hidup mendesak moratorium nasional untuk pembangunan pusat data baru di AS. Mereka menuntut Kongres bertindak.
Koalisi besar ini termasuk Greenpeace dan Friends of the Earth menuduh fasilitas raksasa yang haus energi itu sebagai biang kerok. Dampaknya macam-macam: emisi karbon melonjak, konsumsi air yang boros, dan yang paling langsung dirasakan rakyat: tagihan listrik yang membubung.
"Peningkatan pesat pusat data yang tidak diatur ini mengancam komunitas kami," bunyi surat mereka. Setidaknya 16 proyek senilai $64 miliar telah ditunda atau dibatalkan karena penolakan warga lokal yang geram dengan kenaikan biaya listrik.
Kekhawatiran ini ternyata punya daya dorong politik yang kuat. Isu tagihan listrik yang mahal membantu kemenangan Demokrat di Virginia dan New Jersey baru-baru ini. Bahkan di Georgia, kandidat yang menentang pusat data berhasil menang.
Padahal, Presiden Trump menyebut isu keterjangkauan ini sebagai "narasi palsu".
"Mereka hanya mengucapkan kata itu," kata Trump. "Itu tidak berarti apa-apa bagi siapa pun. Mereka hanya mengatakannya: keterjangkauan."
Namun faktanya, sekitar 80 juta warga AS kesulitan membayar tagihan listrik dan gas mereka. Charles Hua dari PowerLines, sebuah organisasi non-partisan, melihat tren baru.
"Kami memasuki era baru yang sepenuhnya bergantung pada harga listrik," ujar Hua.
“Tidak ada seorang pun di Amerika yang mau membayar lebih untuk listrik. Di Georgia, kami menyaksikan sebagian besar pemilih konservatif memilih menentang petahana dari Partai Republik, yang sungguh mengejutkan.”
Kemarahan ini menyatukan orang dari spektrum politik yang berseberangan, dari Bernie Sanders di kiri hingga Marjorie Taylor Greene di kanan. Bagi gerakan lingkungan, fokus pada keterjangkauan ini jadi senjata baru yang efektif, di tengah sulitnya berdebat tentang krisis iklim.
Presiden Trump sendiri menyebut krisis iklim sebagai "tipuan" dan energi bersih "penipuan". Sementara itu, dengan laju pertumbuhan saat ini, pusat data diperkirakan akan menambah 44 juta ton karbon dioksida ke atmosfer pada 2030 setara dengan menambah 10 juta mobil.
Tapi bagi kebanyakan orang, yang lebih menyakitkan adalah dampaknya pada dompet, bukan pada iklim. Emily Wurth dari Food & Water Watch mengakuinya.
"Saya kagum dengan gelombang perlawanan akar rumput bipartisan terhadap hal ini," katanya.
“Semua orang terdampak. Banyak orang tidak melihat manfaat dari AI dan merasa mereka harus membayarnya dengan tagihan listrik dan air mereka."
"Ini topik pembicaraan yang penting," tambah Wurth. "Harga-harga naik secara umum dan ini adalah sesuatu yang sangat diperhatikan oleh rakyat."
Sebuah Dunia Baru
Dunia ilmu pengetahuan dan teknologi berubah dengan kecepatan yang sulit diikuti. Perubahan itu datang dari teknologi, membelah realitas kita menjadi dua: dunia nyata dan dunia maya.
Dari dua dunia ini, manusia menikmati kemajuan. Tapi efek sampingnya ternyata melahirkan bentuk kapitalisme baru. Kapitalisme perang berganti menjadi kapitalisme digital.
Kaum oligarki lama pun berevolusi. Kini, mereka adalah kaum broligarki. Sebuah perubahan yang terasa tak terelakkan, meski tetap ada tokoh perempuan yang ikut bermain di dalamnya.
Namun begitu, kritik terhadap para arsitek AI tak pernah padam. Ia bergejolak dalam gerakan hijau yang berjuang menjaga kelestarian alam. Perlawanan itu terus berlangsung, berakar dari komitmen lama seperti Perjanjian Paris 2015.
Dan dalam waktu yang tidak lama lagi, kita akan tahu: akankah kita melihat dunia yang terawat, atau justru menyaksikannya sekarat perlahan?
Artikel Terkait
Tragedi di Jalan Afar: 22 Migran Tewas dalam Kecelakaan Truk yang Mengangkut Calo Ilegal
PDIP Bertahan Sendirian, Guntur Romli: Gasken, Terus Lawan!
Patung Macan Aneh di Kediri Justru Jadi Magnet Wisata dan Pendorong Ekonomi Desa
Babi Ngaku Halal: Sindiran Pedas Puji Anugrah Laksono pada Para Pengkotbah Moral