Suara azan akhirnya kembali terdengar di Aceh. Setelah sebulan sunyi, hiruk-pikuk warga menuju masjid untuk salat Jumat pertama di tahun ini, Jumat (2/1), menjadi pemandangan yang mengharukan. Rasanya seperti napas baru bagi Serambi Makkah.
Memang, situasinya sangat berbeda dengan kondisi akhir November lalu. Kala itu, banjir bandang dan tanah longsor datang menghantam, meninggalkan kehancuran yang luar biasa. Rumah-rumah porak-poranda, jalan terputus, dan yang tak kalah menyedihkan, tempat-tempat ibadah ikut menjadi korban. Banyak masjid terendam lumpur, listrik padam, dan pengeras suara tak lagi berkumandang.
Nah, dalam situasi seperti itu, PLN bergerak cepat. Fokus utama tentu memulihkan jaringan listrik yang rusak parah. Tapi di sela-sela tugas berat itu, tim di lapangan punya inisiatif lain: membersihkan dan membenahi sarana ibadah yang rusak.
Sejak Selasa (16/12/2025), lebih dari 140 relawan dari berbagai daerah di Indonesia diterjunkan. Mereka bekerja sama dengan Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN. Tugasnya ganda: mengeruk material lumpur yang membandel sekaligus memeriksa keamanan instalasi listrik di dalam masjid. Mereka turun dengan sekop dan selang air, bahu-membahu dengan warga setempat.
Aksi solidaritas ini dipusatkan di lima wilayah yang paling parah terdampak, yaitu Aceh Tamiang, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Timur, dan Aceh Tengah. Hasilnya? Sudah 15 masjid yang berhasil dipulihkan sepenuhnya.
Artikel Terkait
Gen Z dan Ancaman Gelombang Protes yang Bisa Menggoyang Pemerintahan Baru
Jalan Hilang, Akses Terputus: Bekas Amukan Banjir Bandang di Duo Koto Belum Pulih
Resolusi 2026: Hidup Panjang dan Bermakna Dimulai dari Hal-Hal Kecil
Hunian Sementara di Aceh Tamiang Tak Sekadar Tempat Berlindung, Dilengkapi Fasilitas Penunjang