Oleh: Ustadz Sam Waskito
Bismillah.
Ceritanya, saya lagi naik angkutan umum. Tak sengaja, duduk di sebelah seorang pemuda. Dari obrolan, ternyata dia kerja sebagai manajer keuangan di salah satu dapur M.B.G. Lumayan seru juga ngobrol dengannya. Dia bocorin sedikit soal hitung-hitungan bisnis dapur itu, yang bikin saya sendiri agak terkejut.
Menurut si pemuda, biaya sewa dapur per harinya saja mencapai angka 6 juta rupiah. Gila, kan?
"Sewa dapurnya per hari 6 juta, Pak," katanya.
Nah, satu periode kerjanya itu dua pekan. Tapi cuma dihitung 12 hari kerja, karena ada dua hari Minggu yang libur. Jadi, kalau 6 juta dikali 12 hari, totalnya 72 juta rupiah untuk sewa tempat saja dalam satu periode.
Di sisi lain, dalam sebulan kan ada dua periode. Artinya, 24 hari kerja. Hitungan kasar sewaannya langsung melonjak jadi 144 juta rupiah per bulan per dapur. Uang segitu semuanya masuk ke kantong pemilik atau owner dapur MBG.
Coba bayangkan skala lebih luas. Kalau si owner punya 10 titik dapur, minimal dia bisa dapat 1,4 miliar sebulan. Itu baru sewa. Kalau dikalkulasi setahun katakanlah 10 bulan kerja angka yang menguap bisa nyentuh 14 miliar. Fantastis.
Ingat, ini cuma biaya sewa. Belum lagi bahan baku makanan, peralatan, sistem operasional, plus ongkos kirim. Bisa dibayangkan gimana besarnya aliran uang di bisnis ini. Kekayaannya kayak apa ya para pebisnisnya?
Makanya nggak heran kalau mereka ogah libur. Sekolah libur panjang atau bulan Ramadhan pun, operasional tetep jalan. Ya wajar, cuannya deras banget. Mirip aliran Bengawan Solo yang nggak pernah berhenti.
Pantes saja anak muda tadi dan mungkin banyak rekan-rekannya jadi ngefans berat sama Presiden sekarang. Mereka memuji-muji. Ya jelas, mereka kan kebagian jatah dari “aliran Bengawan Solo” tadi. Dia bahkan bilang, anggaran MBG untuk 2026 diprediksi bakal tembus Rp 334 triliun! Angka yang sulit dibayangkan.
Ya Allah, ya Karim. Negeri ini kok bisa-bisanya begini. Sepuluh tahun Jokowi dan Luhut disebut-sebut sudah menghancurkan negeri, tapi kok cara-cara kayak gini malah diteruskan?
Gini loh, Pak, bandingkan dengan contoh sederhana. Misal saya dapat order snack untuk acara pentas seni di sebuah TK. Muridnya 50 anak. Itu orderan sekali jalan untuk satu acara.
Di kasus ini, pihak sekolah nggak perlu bayar sewa dapur. Nggak beli bahan baku, nggak urus transport, bahkan nggak bayar honor pembuat snack. Harga snack per porsi sudah include semuanya. Tanpa perlu lagi biaya tambahan macam sewa, gas, listrik, atau bayar orang pel lantai dapur yang licin.
Pengen sih percaya sama Presiden dan timnya. Tapi ini kan Indonesia. Realitanya seringkali nggak sesederhana itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah. 😢
Ya Rabb, ya 'Azhiim, ya 'Aliim, ya Lathiif... Kami cuma bisa menitipkan para pemimpin negeri ini ke dalam lindungan-Mu.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi 1 Ramadan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026, Sidang Isbat Tunggu Hasil Rukyat
Yenny Wahid: Hormati Perbedaan Penetapan Awal Ramadan
Arab Saudi Siapkan Ruang Iktikaf di Atap Masjid Nabawi Sambut Ramadan
Kemenag Sulsel dan BMKG Pantau Hilal Ramadan dari Tiga Titik