Hoax HAARP & Gempa Aceh
✍🏻 Arsyad Syahrial
Belakangan ini, timeline media sosial saya ramai dengan satu klaim yang bikin geleng-geleng kepala. Katanya, gempa-gempa di Aceh itu ulah HAARP program penelitian Amerika di Alaska. Ada screenshot yang beredar, dan bagi yang masih punya nalar, bantahannya sebenarnya sederhana sekali.
HAARP, atau lengkapnya High-frequency Active Auroral Research Program, memang terdengar seperti sesuatu dari film sci-fi. Faktanya, ini cuma fasilitas riset untuk mempelajari lapisan ionosfer bagian atmosfer paling atas. Tujuannya ya penelitian murni, terkait komunikasi radio dan pengamatan atmosfer. Proyek ini dimulai tahun 1993, dan sejak 2015 dikelola oleh University of Alaska Fairbanks. Tapi, entah kenapa, namanya selalu dikait-kaitkan dengan teori konspirasi yang aneh-aneh.
Mari kita bedah pelan-pelan.
Pertama, soal energi. Ini poin paling gampang untuk menjatuhkan klaim tadi. Coba bandingkan skala energinya. Gempa Aceh tahun 2004 itu melepaskan energi sekitar 4,0 × 10²² Joule. Angkanya nggak main-main.
Nah, seluruh pembangkit listrik di AS dalam setahun cuma menghasilkan kira-kira 1,44 × 10¹⁶ Joule. Jadi, energi gempa Aceh waktu itu sekitar 2,7 juta kali lebih besar dari total listrik yang dihasilkan Amerika Serikat selama satu tahun penuh! Bayangkan.
Mengatakan HAARP yang cuma fasilitas riset kecil bisa memicu gempa sebesar itu, ibaratnya seperti berharap baterai jam tangan bisa nyalain seluruh lampu di Jakarta sampai kiamat. Mustahil secara hukum dasar fisika.
Kedua, soal cara kerjanya. HAARP dirancang untuk meneliti ionosfer, yang letaknya puluhan sampai ratusan kilometer di atas permukaan bumi. Sementara gempa tektonik terjadi di litosfer, alias kerak bumi, dengan kedalaman puluhan kilometer di bawah tanah.
Artikel Terkait
Mamdani Langsung Blusukan, Dengarkan Keluhan Sewa Mahal di Hari Pertama Jadi Wali Kota
Demokrat Somasi Akun Medsos Tuding SBY Dalang Isu Ijazah Jokowi
Dua Tahun Tanpa Rizal Ramli, Bencana Ekologi Sumatera dan Konsep Ecoterrorism yang Terlupakan
Hilangnya Para Pemimpin Hamas, Tapi Bukan Akhir dari Perlawanan