Tahun Baru 2026: Keramaian, Kebersihan, dan Cerita Sederhana di Balik Kemeriahan

- Jumat, 02 Januari 2026 | 04:36 WIB
Tahun Baru 2026: Keramaian, Kebersihan, dan Cerita Sederhana di Balik Kemeriahan

Suasana Tahun Baru 2026 di sejumlah kota besar ternyata tak kalah meriah. Yogyakarta dan Bali memang selalu jadi magnet utama, tapi Jakarta punya cerita sendiri. Kawasan ikonik seperti Malioboro, Titik Nol Kilometer, hingga Pantai Sanur dan Taman Margasatwa Ragunan, semuanya dipenuhi orang yang ingin memulai tahun dengan cara berbeda.

Di balik keramaian itu, ada persiapan kesehatan dan cerita-cerita sederhana dari masyarakat lokal yang justru bikin perayaan terasa lebih bermakna. Berikut laporannya.

Ramai Tapi Tak Sampah Menumpuk, Begini Kondisi Titik Nol Yogyakarta

Kawasan Tugu Yogyakarta hingga Titik Nol Kilometer benar-benar penuh sesak. Menurut Fitria Dyah Anggraeni dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, diperkirakan sekitar 500 ribu orang memadati area itu dan sepanjang Malioboro.

Namun begitu, kerumunan besar itu tak serta-merta meninggalkan sampah berantakan. Anggraeni bilang, volume sampah yang terkumpul jauh dari perkiraan, bahkan tak sampai 8 ton.

“Volume sampahnya itu tidak sampai 8 ton, dia tidak sampai itu nggak,” kata Anggraeni.

Petugas kebersihan langsung bergerak cepat. Truk-truk pengangkut menyisir rute dari Tugu, Malioboro, hingga Titik Nol sebanyak tiga kali untuk memastikan kondisi tetap bersih.

Luar Biasa, Ragunan Dikunjungi 113 Ribu Orang di Hari Pertama Tahun

Prediksi pengelola meleset jauh. Taman Margasatwa Ragunan di Jakarta Selatan justru kedatangan 113.000 pengunjung di tanggal 1 Januari, padahal perkiraan awal hanya 80.000 hingga 100.000 orang.

Humas Ragunan, Wahyudi Bambang, mengakui lonjakan itu. Cuaca sempat tak bersahabat dengan hujan dan angin kencang, tapi secara keseluruhan aktivitas berjalan aman dan tertib.

Area parkir pun penuh oleh ribuan kendaraan, baik mobil maupun motor.

“Hari ini kita prediksikan tanggal 1 itu 80 sampai 100 ribu, tapi faktanya 113.000. Artinya lebih dari apa yang kita perkirakan,” ujar Bambang di lokasi.

Liburan Sederhana Keluarga di Tengah Keramaian Ragunan

Di balik angka yang fantastis, suasana di dalam Ragunan justru terasa tenang dan hijau. Banyak keluarga memilih menghabiskan hari pertama tahun dengan cara yang simpel: jalan kaki, bersepeda, atau sekadar duduk-duduk di bawah rindangnya pohon.

Seperti yang dilakukan Kiki, seorang pengunjung yang sengaja membawa anaknya ke sana.

“Iya lihat-lihat binatang dia ini, memang sengaja ke sini buat anak. Buat ngenalin binatang ke dia,” ucap Kiki.

Baginya, momen itu lebih berharga daripada sekadar merayakan di keramaian pusat kota.

Antisipasi Darurat, Alat Kejut Jantung Siaga di Malioboro

Pemerintah Kota Yogyakarta ternyata tak main-main dengan antisipasi kesehatan. Selama libur Nataru, sejumlah Automated External Defibrillator (AED) atau alat kejut jantung otomatis disiagakan di titik-titik strategis Malioboro, seperti Teras Malioboro 1 dan dekat Titik Nol.

Menurut seorang sekuriti setempat bernama Ima, alat-alat itu belum sempat digunakan karena tak ada kasus darurat.

“Ini setiap hari di sini. Ini dari pemerintah,” kata Ima.

Langkah ini jadi bukti kesiapan meski harapannya alat itu tak perlu dipakai.

Pantai Sanur Bali Juga Tak Kalah Ramai

Pergi ke pantai selalu jadi pilihan yang tepat. Pantai Sanur di Denpasar, Bali, dipadati wisatawan yang ingin menikmati angin laut dan ombak di awal tahun. Suasana santai terlihat jelas; ada yang main pasir, ada yang sekadar menikmati sore bersama keluarga.

Bunda Putri, pengunjung asal Jember, mengaku sengaja membawa anak-anaknya ke sana.

“Kami ke sini karena anak-anak saja, minta main ke pantai,” katanya.

Alasannya sederhana, tapi justru itulah yang membuat liburan terasa istimewa.

Nostalgia Kusir Andong di Malioboro

Keramaian Malioboro sayangnya belum sepenuhnya membawa berkah bagi semua. Para kusir andong, misalnya, mengeluh bahwa jumlah penumpang mereka belum kembali seperti masa sebelum pandemi melanda.

Marsaya, seorang kusir yang sudah menjalani profesi ini sejak 1990, merasakan betul perbedaannya. Dulu, dalam sehari ia bisa mendapat Rp 500 ribu. Sekarang, di hari libur sekalipun, penghasilannya hanya sekitar Rp 300–400 ribu.

“Zaman dulu lebih lancar dulu (lebih banyak penumpangnya dulu),” kenang Marsaya dengan nada sedikit lirih.

Baginya, keramaian saat ini hanyalah bayangan dari kemeriahan masa lalu yang belum sepenuhnya pulih.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar