Seorang netizen baru-baru ini bikin heboh di media sosial. Ia curhat beli tiga porsi nasi gudeg telur plus teh, harganya tembus Rp 85 ribu. Lokasinya diduga di sekitar kawasan Malioboro, Yogyakarta. Unggahan itu langsung ramai dibahas, banyak yang kaget dengan angka segitu.
Menanggapi viralnya keluhan itu, Fitria Dyah Anggraeni, atau yang akrab disapa Anggi, angkat bicara. Sebagai Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya, ia mengakui kalau harga gudeg memang nggak seragam.
"Ya memang mungkin beda-beda ya," ujar Anggi via telepon, Kamis (1/1).
Ia lalu menambahkan, "Kalau dia ke Gudeg yang terkenal kan bisa lebih syok lagi harganya. Tapi nggak bisa gitu juga, ya."
Menurutnya, ada ekspektasi dari para pelancong bahwa Yogya punya citra sebagai kota dengan kuliner yang terjangkau. Harapan itu kadang berbenturan dengan realita di lapangan.
Soal kewenangan, Anggi menjelaskan posisinya. UPT yang dipimpinnya kini tak lagi mengurusi Teras Malioboro 2. Artinya, kontrol harga terhadap pedagang di sana berada di luar ranah kerjanya.
"Kami untuk UPT sendiri kan tidak berada dalam ranah untuk bisa mengontrol harga," katanya dengan lugas.
Namun begitu, bukan berarti Pemkot tinggal diam. Anggi bilang, Dinas Pariwisata sudah gencar menyosialisasikan ke pelaku usaha kuliner. Intinya, mereka diminta untuk menyiapkan dan menampilkan daftar harga dengan jelas sebelum pembeli memesan.
Imbauan lain juga terus disuarakan: wisatawan harus aktif tanya harga dulu. Jangan sungkan untuk konfirmasi sebelum memutuskan beli, terutama di kawasan ramai seperti Malioboro.
"Kemudian juga untuk di kami di UPT PKCB itu selalu mengimbau makan di resto yang ada di kawasan Malioboro. Jadi yang bener-bener penjual-penjual yang sudah secara pasti harganya itu jelas, kayak gitu," jelas Anggi.
Kolaborasi dengan Dinas Pariwisata, menurutnya, sudah berjalan untuk hal-hal semacam ini.
Ia punya harapan sederhana. "Harapan kami yang selalu kami imbau pun wisatawan tuh datang dengan kesadaran kayak gitu, bahwa dia akan membeli makanan di mana, kemudian akad harganya jelas."
"Nah saya rasa biar nggak terjadi hal-hal seperti ini kayak gitu," pungkasnya. Intinya, komunikasi yang jelas antara penjual dan pembeli jadi kunci agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Artikel Terkait
Mahfud MD Soroti Aparat Penegak Hukum sebagai Akar Masalah Utama
Menko Hukum Yusril Kecam Penganiayaan Remaja oleh Oknum Brimob di Tual
Pemuda 19 Tahun Tewas Tabrak Truk Mogok di Jalan AP Pettarani Makassar
Menko Hukum Yusril Kecam Keras Penganiayaan Pelajar Maluku oleh Oknum Brimob