Soal tarif? Tidak ada perubahan berarti. "Ada Rp 100 ribu, ada Rp 150 ribu, ada yang Rp 200 ribu. Muternya tergantung jaraknya," jelas Marsaya. Sistemnya masih tetap begitu, negosiasi sesuai rute yang ditempuh penumpang.
Cerita serupa datang dari Afif, kusir andong lainnya. Ia mengaku merasakan hal yang sama. Ada kenaikan, iya. Tapi untuk menyamai era sebelum pandemi? Jauh panggang dari api.
"Ada kenaikan dibanding hari biasa. Tapi belum, masih jauh," ucap Afif.
Di hari libur panjang ini, Afif mengaku bisa melayani lima hingga sepuluh kali perjalanan. Angka yang terdengar lumayan, tapi tetap saja tak sebanding.
"Sebelum COVID-19, sepuluh ke atas bisa," pungkasnya singkat, sebelum menawarkan jasanya pada sekelompok keluarga yang sedang bingung mencari transportasi.
Jadi, di tengah euforia keramaian Malioboro, suara dari para kusir andong ini seperti pengingat halus. Pemulihan memang sedang berjalan, tapi butuh waktu lebih lama bagi sebagian orang untuk benar-benar merasakannya.
Artikel Terkait
FC Barcelona Femení Hajar Badalona 6-0, Pertegas Dominasi di Liga Spanyol
Napoli Kalahkan AC Milan 1-0 Berkat Gol Penentu Politano
Rektor ITB Jemput Langsung Siswi Berprestasi dari Pariaman yang Baru Kehilangan Ibu
Malaria dan Sikap Dingin Belanda Renggut Nyawa Ibu Mertua Soekarno di Pengasingan Ende