Soal tarif? Tidak ada perubahan berarti. "Ada Rp 100 ribu, ada Rp 150 ribu, ada yang Rp 200 ribu. Muternya tergantung jaraknya," jelas Marsaya. Sistemnya masih tetap begitu, negosiasi sesuai rute yang ditempuh penumpang.
Cerita serupa datang dari Afif, kusir andong lainnya. Ia mengaku merasakan hal yang sama. Ada kenaikan, iya. Tapi untuk menyamai era sebelum pandemi? Jauh panggang dari api.
"Ada kenaikan dibanding hari biasa. Tapi belum, masih jauh," ucap Afif.
Di hari libur panjang ini, Afif mengaku bisa melayani lima hingga sepuluh kali perjalanan. Angka yang terdengar lumayan, tapi tetap saja tak sebanding.
"Sebelum COVID-19, sepuluh ke atas bisa," pungkasnya singkat, sebelum menawarkan jasanya pada sekelompok keluarga yang sedang bingung mencari transportasi.
Jadi, di tengah euforia keramaian Malioboro, suara dari para kusir andong ini seperti pengingat halus. Pemulihan memang sedang berjalan, tapi butuh waktu lebih lama bagi sebagian orang untuk benar-benar merasakannya.
Artikel Terkait
Longsor Mengganas: Bencana Paling Mematikan Sepanjang 2025
Ribuan Pengunjung Ragunan Terjebak Macet Usai Serbu Hari Pertama 2026
Diplomasi Digital: Perlukah Indonesia Ambil Alih Kendali Data Warganya?
Kapolres Jakarta Timur Hadapi Dua Preman BKT, Tanya Tarif Paksa hingga Senjata Tajam