Dua preman yang diduga melakukan pungutan liar dan penganiayaan terhadap seorang pedagang di Banjir Kanal Timur, Duren Sawit, akhirnya berhadapan langsung dengan Kapolres Jakarta Timur. Kombes Alfian Nurrizal sendiri yang memimpin interogasi terhadap kedua lelaki berinisial SA dan SR itu.
Pertanyaan pertama Alfian langsung menohok. Ia ingin tahu berapa tarif yang mereka paksakan kepada pedagang yang cuma cari rezeki di kawasan BKT.
“Kamu mintai berapa pertama kali untuk berdagang di BKT itu?” tanya Alfian dalam sebuah video.
“Rp 250 ribu,” jawab pelaku, singkat.
Alfian tak berhenti di situ. Ia mempertanyakan dasar kesewenang-wenangan mereka. “Kamu tidak ada izin pemberitahuan dari RT maupun wakil RT, betul?” tekanannya jelas.
“Iya, Pak,” jawab pelaku itu sambil menunduk, sepertinya mulai menyadari beratnya perkara.
Namun begitu, poin utamanya justru terletak pada kekerasan yang terjadi. Alfian dengan tegas menyoroti tindakan penganiayaan yang menyebabkan korban terluka. Pelaku hanya bisa terdiam dan tertunduk mendengar teguran sang Kombes.
“Tindakan kamu melakukan penganiayaan kepada korban sampai hidungnya berdarah, dengan memukul menggunakan dahi atau jidat kepala kamu ke kepala korban itu keras atau tidak? Jawab,” ujar Alfian, suaranya penuh tekanan.
Di sisi lain, polisi juga berhasil menyita senjata tajam dari tangan para pelaku. Saat ditanya soal fungsi pisau itu, ruangan pun menjadi sunyi. Pelaku terdiam seribu bahasa.
“Ini saya mau tanya, pisau buat apa ini? Kamu ada perlawanan, ada musuh? Saya tanya dengan tegas dan jujur. Kamu ini sudah jelas premanisme,” tegas Alfian, tak memberi celah untuk pembelaan.
Untuk sementara, kedua tersangka kini mendekam di tahanan Polres Jakarta Timur. Menunggu proses hukum berikutnya.
Artikel Terkait
Perindo Sultra Kurban Lima Sapi untuk Warga Kurang Mampu di Kendari
Atta Halilintar Sebar 12 Ekor Sapi Kurban ke Sejumlah Daerah di Jawa Barat
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok
MUI: Penggunaan APBN untuk Hewan Kurban Presiden Tidak Melanggar Syariat Islam