Longsor Mengganas: Bencana Paling Mematikan Sepanjang 2025

- Kamis, 01 Januari 2026 | 19:18 WIB
Longsor Mengganas: Bencana Paling Mematikan Sepanjang 2025

Tahun 2025 baru saja bergulir, tapi catatan bencananya sudah terasa begitu berat. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada satu jenis bencana yang secara konsisten merenggut nyawa sepanjang tahun: tanah longsor. Ini bahkan menggeser posisi bencana lain sebagai yang paling mematikan, jika kita menyisihkan dampak luar biasa dari Siklon Senyar yang melanda beberapa wilayah di Sumatera.

Peningkatannya, baik dari segi frekuensi maupun dampaknya, sangat mencolok dibanding tahun-tahun sebelumnya. Korban jiwa berjatuhan, dari bulan ke bulan.

“Di 2025, peningkatan kejadian tanah longsor sangat signifikan. Dengan intensitas dan dampak yang jauh luar biasa dari tahun sebelumnya,” ujar Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Kamis (1/1), ia menegaskan poin yang sama. “Sekiranya tidak ada Siklon Senyar, maka tanah longsor adalah kejadian paling mematikan sepanjang tahun 2025.”

Memang, Siklon Senyar yang terjadi pada November lalu adalah sebuah anomali. Badai itu memicu bencana besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Namun, di luar peristiwa ekstrem itu, ancaman longsor ternyata lebih senyap dan lebih mematikan.

Bayangkan saja rangkaian duka yang terjadi. Awal tahun, longsor di Petungkriono, Pekalongan, menewaskan 25 orang. Kemudian berlanjut ke Sukabumi (9 orang), Mojokerto (10 orang), dan Cirebon (21 orang). Bahkan di Papua Barat, longsor di Kabupaten Arfak merenggut 16 nyawa. Di penghujung tahun, Cilacap, Banjarnegara, dan Nduga di Papua kembali menjadi lokasi duka dengan puluhan korban jiwa, termasuk 15 orang yang masih dinyatakan hilang di Nduga.

“Ini berkontribusi untuk meningkatkan dampak baik itu korban jiwa, maupun infrastruktur akibat bencana di 2025,” jelas Abdul.

Secara total, BNPB mencatat ada 3.223 kejadian bencana sepanjang tahun lalu. Tapi kalau ditelisik mana yang paling banyak menyumbang korban jiwa dan kerusakan rumah, jawabannya tetap banjir dan tanah longsor dengan kontribusi besar dari kejadian di Sumatera.

“Kalau kita lihat dari kejadian bencana apa saja yang paling signifikan dalam kontribusi di angka korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, khususnya rumah, itu adalah banjir dan tanah longsor. Kontribusinya dari kejadian di Sumatera,” paparnya.

Namun begitu, Abdul Muhari mengingatkan bahwa peningkatan ini bukan semata-mata soal hujan yang turun lebih deras. Ada faktor lain yang lebih mendasar dan mengkhawatirkan.

Ia menekankan bahwa penurunan daya dukung lingkungan, terutama di area lereng, memegang peranan krusial. Kondisi tanah sudah semakin rentan.

“Kondisi-kondisi kelerengan ini sudah mulai sangat rentan, sehingga benar-benar kita harus melihat ulang tata ruang dan peruntukan lahan,” tutupnya. Sebuah peringatan yang jelas, bahwa alam mungkin sedang memberikan sinyal terakhirnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar