Suasana liburan Natal dan tahun baru 2026 memang terasa hangat di Yogyakarta. Kawasan Malioboro, seperti biasa, dipadati pengunjung. Suara riuh dan lalu lalang orang seolah mengembalikan denyut nadi pariwisata kota ini. Tapi, di balik keramaian itu, ada cerita lain yang mengendap.
Bagi para kusir andong yang setia mangkal di sana, geliat itu belum sepenuhnya terasa. Menurut mereka, jumlah penumpang masih jauh dari masa kejayaan sebelum pandemi COVID-19 melanda.
"Zaman dulu lebih lancar dulu," ujar Marsaya (59), seorang kusir yang sudah menghela andong sejak 1990-an. Ia menghela napas, Kamis (1/1) lalu.
Marsaya bercerita, di puncak liburan ini ia bisa lima kali narik dalam sehari. Memang ada peningkatan dibanding hari biasa, tapi angkanya tak bisa dibandingkan dengan masa lalu.
"Sebelum COVID-19 itu, dulu bisa dapat Rp 500 ribu lebih. Kalau ini Rp 300 ribu, Rp 400 ribu. Tinggi-tingginya ya sebelum COVID," katanya sambil mengawasi kerumunan wisatawan yang lewat.
Harapannya sih sederhana: semoga tren positif ini terus naik pelan-pelan, hingga akhirnya ramai lagi seperti dulu.
Artikel Terkait
Ribuan Pengunjung Ragunan Terjebak Macet Usai Serbu Hari Pertama 2026
Diplomasi Digital: Perlukah Indonesia Ambil Alih Kendali Data Warganya?
Kapolres Jakarta Timur Hadapi Dua Preman BKT, Tanya Tarif Paksa hingga Senjata Tajam
Sawit Dikukuhkan, Hutan Dikorbankan: Negara dalam Cengkeraman Oligarki