Uang kertas baru Suriah bukan sekadar alat tukar. Ia adalah narasi sebuah bangsa yang berusaha bangkit, mencoba menjahit kembali ingatan yang tercabik-cabik oleh perang.
Mulai 1 Januari 2026, Lira Suriah akan tampil dengan wajah yang sama sekali baru. Pengumuman resminya sendiri sudah disampaikan pemerintah pada akhir Desember 2025, sebagai bagian dari serangkaian reformasi ekonomi pasca konflik yang panjang dan melelahkan.
Yang langsung mencolok adalah desainnya. Wajah-wajah tokoh politik, termasuk Bashar al-Assad dan keluarganya yang dulu mendominasi, kini hilang. Mereka digantikan oleh puisi visual tentang tanah air: hamparan gandum, ranting zaitun, bunga mawar, buah jeruk, dan tanaman mulberry. Motif-motif itu bicara tentang Suriah yang subur, sebuah gambaran yang kadang terasa seperti kenangan jauh di tengah lanskap yang masih lusuh.
Di sisi lain, perubahan ini lebih dari sekadar estetika. Ada kebijakan redenominasi yang cukup drastis menyertainya. Dua angka nol akan dihapus dari denominasi. Jadi, 100 Lira lama setara dengan 1 Lira baru. Tujuannya jelas: menyederhanakan transaksi dan akuntansi. Bagi warga yang bertahun-tahun terbiasa membawa tumpukan uang tebal hanya untuk belanja harian, langkah ini setidaknya memberi keringanan psikologis. Meski begitu, nilai uangnya sendiri tak serta-merta naik.
Menurut sejumlah pejabat, pesan yang ingin disampaikan sederhana namun dalam: identitas bangsa ini lebih besar dari satu orang. Ia berakar pada kehidupan sehari-hari rakyatnya, pada tanah dan hasil buminya, bukan pada kultus individu.
"Mereka berharap desain yang mencerminkan kenangan kolektif ini bisa memulihkan kepercayaan terhadap mata uang nasional," jelas seorang sumber di kementerian keuangan.
Memang, kepercayaan itulah yang nyaris hilang. Setelah lebih dari satu dekade konflik dan sanksi, nilai Lira terjun bebas. Dolar AS pun jadi pilihan utama banyak orang untuk menyimpan nilai atau bertransaksi. Pemerintah berupaya membangun kembali hubungan emosional itu lewat simbol-simbol yang akrab.
Namun begitu, mengganti sampul buku tak lantas memperbaiki isinya. Redenominasi dan desain baru mungkin mempermudah urusan harian, tapi ia bukan obat ajaib bagi inflasi tinggi atau masalah struktural kronis seperti pengangguran dan produksi yang mandek. Uang baru bisa jadi alat transaksi yang lebih praktis, tapi perbaikan ekonomi yang sesungguhnya membutuhkan langkah-langkah yang jauh lebih mendasar dan berani.
Pada akhirnya, uang kertas itu hanyalah kertas. Ia baru bermakna ketika ada stabilitas dan kepercayaan yang nyata di baliknya. Suriah sedang mencoba menulis ulang ceritanya, dimulai dari lembaran uang yang baru. Perjalanan sesungguhnya, tentu saja, masih panjang.
Artikel Terkait
Kementan Pantau Pasokan dan Harga Daging-Telur Jelang Lebaran, Kondisi Umum Stabil
Air Terjun Kali Jodoh di Pinrang: Pesona Alam dan Mitos Pencarian Jodoh yang Ramai Dikunjungi
Tiga Buronan KKB Yahukimo Dibawa ke Jayapura untuk Proses Hukum
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India