Namun begitu, pekerjaan ini penuh risiko. Bukan cuma soal sampah. Bekerja di jalan raya saat subuh buta, mereka pernah nyaris tertabrak motor. Listyo bahkan punya pengalaman hampir ditendang pengendara yang mabuk. Belum lagi kalau hujan turun. Badan yang sudah berkeringat langsung basah kuyup.
"Fisiknya harus benar-benar kuat," ujar Dahlan, seragamnya sudah basah oleh keringat. "Kita kerja dalam posisi hujan, ada yang sanggup enggak?"
Meski begitu, mereka harus tetap cepat. Sampah dikumpulkan dulu, tanpa dipilah. Tujuannya sederhana: agar jalan terlihat bersih oleh warga yang lalu lalang. "Sistemnya cepat, biar orang tidak melihat kotornya," jelas Listyo. "Dipilah nanti di DLH."
Di balik semua lelah itu, harapan mereka sebenarnya sederhana. Menjelang masa pensiun, Dahlan dan kawan-kawan sadar, tidak ada jaminan untuk hari tua mereka.
Listyo menghela napas sebelum berbicara.
"Harapannya mungkin tunjangan. Tunjangan hari tuanya tuh diadakan gitu. Kita pengabdiannya udah benar-benar."
Dan sementara mereka berbicara, kota perlahan-lahan terbangun. Jalanan di Bundaran HI sudah bersih, seolah tak ada yang terjadi. Tak ada yang tahu perjuangan di balik sapuan terakhir itu.
Artikel Terkait
Bank Dunia: Ekspor Komoditas dan Subsidi BBM Jadi Bantalan Ekonomi Indonesia
Anggota DPR Desak Polri Tindak Tegas Premanisme Usai Kasus Pengeroyokan di Purwakarta
Tabrakan Beruntun di Jalur Purworejo-Magelang Tewaskan Satu Orang
Presiden Prabowo Buka Munas IPSI, Dukung Pencak Silat Menuju Olimpiade