Jauh sebelum menjadi busana formal, konsep pakaian atasan seperti kemeja sudah ada di Mesir kuno, sekitar 3000 tahun sebelum Masehi. Arkeolog Flinders Petrie pernah menemukan kemeja linen yang “sangat canggih” di sebuah makam. Desainnya sudah memikirkan bentuk bahu dan lengan yang pas, menunjukkan tingkat kerumitan yang tinggi untuk zamannya.
Perkembangannya di Eropa juga menarik. Awalnya, kemeja dianggap sebagai pakaian dalam pria, biasanya dari linen. Baru pada abad ke-18 dan 19, ia naik kelas jadi pakaian luar yang melambangkan formalitas. Trennya terus berubah; pada tahun 1970-an, kemeja pria hadir dengan warna dan corak yang beragam. Perempuan pun mulai mengadopsi gaya serupa dengan memakai blus.
Lalu, dari mana kata “kemeja” muncul di Indonesia?
Istilah itu diserap dari bahasa Portugis, camisa. Ini sekadar satu dari sekian banyak jejak pengaruh perdagangan dan budaya Portugis yang sempat singgah di Nusantara.
Jadi, budaya itu memang seperti sungai selalu dinamis, mengalir, dan menerima sumbangan dari berbagai anak sungai. Klaim “paling” atas sesuatu yang sejatinya hasil percampuran panjang, selain kurang tepat, juga bisa bikin kita tersandung pada sejarah itu sendiri.
-demikian-
Artikel Terkait
Malioboro Tetap Ramai di Siang Hari Pertama 2026, Wali Kota Pantau dengan Boncengan Motor
Mulai 2026, Pelaku Kejahatan Bisa Dihukum Kerja Sosial, Bukan Penjara
Kembang Api di Vila Bali Picu Kebakaran, Kerugian Capai Rp 3 Miliar
Bisik-Bisik 10.000 Bitcoin dan Awan Kelabu The Fed di Ambang 2026