“Jangankan untuk tidur, bergeser untuk duduk saja susah,” tuturnya, menggambarkan keprihatinan yang mereka alami. Saat itu, yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dan saling menguatkan.
Namun begitu, dari puing-puing kepiluan itu, tekad Yusra justru tumbuh. Alih-alih larut dalam kesedihan, pria asal Jorong Labuah ini memilih untuk bangkit dan mengulurkan tangan. Kini, ia aktif menjadi relawan di pos pengungsian yang dikelola DPC PDIP Kabupaten Agam.
“Di samping kita terdampak bencana, kita tetap semangat untuk membantu masyarakat yang ada di sekitar ini,” imbuhnya, matanya menunjukkan cahaya semangat yang berbeda.
Bagi Yusra, prinsipnya sederhana namun kuat: hidup harus saling bantu. “Dengan kesempatan apa pun akan saya lakukan, karena kita harus hidup saling bantu membantu,” tambahnya.
Ke depan, harapannya jelas. Ia ingin sungai di kampung halamannya segera dinormalisasi. Jangan sampai bencana serupa terulang dan mengobrak-abrik pemukiman warga untuk kesekian kalinya.
“Bagaimana cara kampung kami ini untuk menormalisasikan air sungai yang selalu mengamuk dan menghantam rumah-rumah warga yang saat ini,” tandas Yusra, suaranya penuh harap sekaligus kekhawatiran. Ia tak ingin ada lagi keluarga yang merasakan duka seperti yang ia alami.
Artikel Terkait
Kisah Kelahiran Langka Rudini: Dari Anak Gajah Malang Menuju Puncak Karier Militer
Noussair Mazraoui Buka Suara: Pensiun dari Sepak Bola untuk Fokus Jadi Imam dan Hafiz Quran
Gattuso, Buffon, dan Gravina Mundur Usai Italia Gagal ke Piala Dunia 2026
BPPTKG: Aktivitas Vulkanik Merapi Masih Tinggi, Status Siaga Dipertahankan