Israel baru-baru ini mengakui kemerdekaan Somaliland, wilayah yang memisahkan diri dari Somalia. Tapi langkah ini langsung menuai gelombang penolakan dari banyak negara. Indonesia termasuk di dalamnya.
Rabu kemarin, sejumlah negara bersama-sama menyuarakan kecaman. Pernyataan bersama itu datang dari Mesir, Aljazair, Iran, Arab Saudi, hingga Turki. Organisasi seperti OKI dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) juga ikut menandatangani.
Intinya jelas: mereka menolak keras pengakuan yang diberikan Israel pada 26 Desember 2025 itu.
"Penolakan tegas dan bulat atas pengakuan Israel terhadap wilayah 'Somaliland' di Republik Federal Somalia," bunyi pernyataan tersebut.
Menurut mereka, langkah ini punya dampak serius. Bukan cuma untuk perdamaian di kawasan Tanduk Afrika dan Laut Merah, tapi juga secara global. Rasanya seperti membuka kotak Pandora yang bisa memicu ketidakstabilan di mana-mana.
"Kecaman sekeras-kerasnya atas pengakuan tersebut, yang merupakan pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam PBB," lanjut pernyataan itu.
Isinya juga menegaskan sikap ekspansionis Israel. Di sisi lain, dukungan penuh diberikan untuk kedaulatan dan persatuan Somalia. Mereka khawatir, pengakuan terhadap sebagian wilayah suatu negara bisa jadi preseden buruk. Bayangkan jika ini ditiru di tempat lain ancaman bagi perdamaian dunia jadi nyata.
Narasi lain yang mereka tolak adalah keterkaitan langkah ini dengan pengusiran paksa rakyat Palestina. Itu sama sekali tidak bisa diterima, dalam bentuk apapun.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi? Israel, lewat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menjadi negara pertama yang mengakui Somaliland secara resmi. Wilayah ini memang sudah mendeklarasikan kemerdekaan sepihak sejak 1991, setelah perang saudara melanda Somalia.
Netanyahu bilang, langkah ini diambil "dalam semangat Kesepakatan Abraham." Dia juga menyebut rencana kerja sama di bidang pertanian, kesehatan, dan teknologi dengan Somaliland.
Jadi, situasinya kompleks. Di satu sisi ada klaim kemerdekaan sebuah wilayah, di sisi lain ada prinsip kedaulatan negara yang dipegang teguh oleh banyak bangsa. Langkah Israel ini, bagi yang menentang, bukan sekadar pengakuan diplomatik biasa. Ini dianggap sebagai pukulan bagi tatanan internasional yang sudah ada.
Artikel Terkait
Messi Tegaskan Hanya akan Tampil di Piala Dunia 2026 Jika Kondisi Fisik 100%
Gol Perdana Marc Guehi Bawa Manchester City Lolos ke Babak Berikutnya Piala FA
Harry Kane Cetak Dua Gol, Bayern Munich Hajar Werder Bremen 3-0
Polisi Tangkap Pengedar Sabu di SPBU Kemang, Sita Tiga Bungkus