MURIANETWORK.COM - Operasi militer untuk merebut Gunung Potong di Manado dari kekuatan Permesta pada September 1958 menjadi salah satu babak penting dalam penumpasan gerakan tersebut. Pertempuran di medan terjal dan gelap itu melibatkan pasukan elite RPKAD (kini Kopassus) dan KKO (kini Korps Marinir), yang akhirnya berhasil menguasai benteng pertahanan pemberontak setelah serangan mendadak yang penuh risiko.
Latar Belakang Konflik Permesta
Perjuangan Rakyat Semesta atau Permesta bermula sebagai gerakan yang menuntut otonomi daerah lebih luas dan menolak sistem pemerintahan yang dinilai terlalu terpusat di Jawa. Gerakan ini, yang awalnya berpusat di Makassar sebelum berpindah ke Manado, berkembang menjadi konflik bersenjata yang berlangsung hingga awal tahun 1960-an. Pemerintah pusat pun merespons dengan mengerahkan operasi militer untuk mengembalikan kendali atas wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.
Benteng Terakhir di Gunung Potong
Salah satu titik perlawanan terberat Permesta berada di Gunung Potong, Manado. Lokasi yang terletak di antara Bukit Conggaan dan Patahan ini diubah menjadi benteng alam yang nyaris tak tertembus. Medannya berbukit-bukit batu dengan jurang dalam, sementara pertahanannya disusun berlapis. Setiap lubang atau posisi diisi dengan senjata berat, memberikan keuntungan strategis yang besar bagi para pemberontak yang dipimpin Mayor Yan Timbuleng.
Upaya awal pasukan pemerintah, yang melibatkan tim RPKAD dan KKO dengan dukungan artileri, sempat terhenti. Medan yang ekstrem dan berbahaya menghalangi langkah mereka, padahal sasaran hanya berjarak sekitar seratus meter. Kegagalan ini memaksa komando untuk menyusun ulang taktik dalam waktu singkat.
Raid Mendadak di Kegelapan
Setelah empat hari mempersiapkan rencana baru, sebuah operasi rahasia dilancarkan pada dini hari tanggal 2 September 1958. Satu peleton RPKAD dipimpin Sersan Mayor Soetarno, didukung satu kompi KKO dan penunjuk jalan lokal, bergerak menyusuri jalur yang dianggap tidak mungkin dilalui. Mereka merayap melalui semak belukar lebat dan jurang berbatu dalam kondisi gelap gulita.
Perjalanan mereka sempat terancam saat anjing penjaga Permesta menggonggong. Pasukan pun mengubah arah, mendaki ke bukit tertinggi di sekitarnya. Di puncak, mereka justru menemukan jalan setapak tersembunyi yang mengarah langsung ke pos musuh. Dari jarak hanya 25 meter, terlihat sejumlah personel Permesta sedang berdiang di sekitar api unggun.
“Setelah sampai di puncak bukit, tim RPKAD menemukan jalan setapak yang dipenuhi semak belukar yang ternyata mengarah ke pos musuh,” ungkap salah satu narasumber yang mendalami peristiwa tersebut.
Penyerangan Tanpa Suara dan Kemenangan
Menyadari bahaya pertempuran terbuka di malam hari, komandan memutuskan untuk melakukan penyergapan mendadak. Pasukan dibagi menjadi beberapa tim penembak dengan sasaran spesifik. Begitu serangan dimulai, pertempuran berubah menjadi perkelahian jarak dekat yang intens menggunakan sangkur bayonet, berlangsung dalam kesunyian malam tanpa tembakan.
“Setelah tembakan penyergapan dilakukan, terjadi perkelahian satu lawan satu dengan sangkur, tanpa ada letusan,” jelasnya, menggambarkan situasi mencekam itu.
Pada pukul empat pagi, posisi utama di Gunung Potong akhirnya berhasil diamankan. Pasukan Permesta yang tersisa melarikan diri, bahkan meninggalkan sejumlah senjata berat yang kemudian dimanfaatkan pasukan pemerintah. Setelah menyerahkan lokasi kepada KKO, pasukan RPKAD melanjutkan pergerakan maju dan kembali terlibat baku tembak sengit selama dua jam.
Pertahanan terakhir Permesta akhirnya jatuh sepenuhnya ke tangan RPKAD pada pagi hari tanggal 3 September 1958, tepat pukul enam. Kemenangan di Gunung Potong ini menjadi pukulan telak, meskipun sisa-sisa Permesta masih melanjutkan perlawanan gerilya yang kemudian ditangani oleh operasi lanjutan dari Batalyon 2/RPKAD.
Artikel Terkait
Guardiola Kritik Performa City Meski Lolos ke Babak Kelima Piala FA
Keamanan Diperketat di Bandara Koroway Batu Pascapenembakan Pesawat oleh KKB
SPPG Ponorogo Diinstruksikan Relokasi Usai Beroperasi di Bawah Kandang Walet
Kemlu Tegaskan Partisipasi RI di Pasukan Gaza Bukan Pengakuan terhadap Israel