RPKAD dan KKO Rebut Benteng Terakhir Permesta di Gunung Potong Setelah Serangan Mendadak 1958

- Minggu, 15 Februari 2026 | 04:30 WIB
RPKAD dan KKO Rebut Benteng Terakhir Permesta di Gunung Potong Setelah Serangan Mendadak 1958

MURIANETWORK.COM - Operasi militer untuk merebut Gunung Potong di Manado dari kekuatan Permesta pada September 1958 menjadi salah satu babak penting dalam penumpasan gerakan tersebut. Pertempuran di medan terjal dan gelap itu melibatkan pasukan elite RPKAD (kini Kopassus) dan KKO (kini Korps Marinir), yang akhirnya berhasil menguasai benteng pertahanan pemberontak setelah serangan mendadak yang penuh risiko.

Latar Belakang Konflik Permesta

Perjuangan Rakyat Semesta atau Permesta bermula sebagai gerakan yang menuntut otonomi daerah lebih luas dan menolak sistem pemerintahan yang dinilai terlalu terpusat di Jawa. Gerakan ini, yang awalnya berpusat di Makassar sebelum berpindah ke Manado, berkembang menjadi konflik bersenjata yang berlangsung hingga awal tahun 1960-an. Pemerintah pusat pun merespons dengan mengerahkan operasi militer untuk mengembalikan kendali atas wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.

Benteng Terakhir di Gunung Potong

Salah satu titik perlawanan terberat Permesta berada di Gunung Potong, Manado. Lokasi yang terletak di antara Bukit Conggaan dan Patahan ini diubah menjadi benteng alam yang nyaris tak tertembus. Medannya berbukit-bukit batu dengan jurang dalam, sementara pertahanannya disusun berlapis. Setiap lubang atau posisi diisi dengan senjata berat, memberikan keuntungan strategis yang besar bagi para pemberontak yang dipimpin Mayor Yan Timbuleng.

Upaya awal pasukan pemerintah, yang melibatkan tim RPKAD dan KKO dengan dukungan artileri, sempat terhenti. Medan yang ekstrem dan berbahaya menghalangi langkah mereka, padahal sasaran hanya berjarak sekitar seratus meter. Kegagalan ini memaksa komando untuk menyusun ulang taktik dalam waktu singkat.

Raid Mendadak di Kegelapan

Setelah empat hari mempersiapkan rencana baru, sebuah operasi rahasia dilancarkan pada dini hari tanggal 2 September 1958. Satu peleton RPKAD dipimpin Sersan Mayor Soetarno, didukung satu kompi KKO dan penunjuk jalan lokal, bergerak menyusuri jalur yang dianggap tidak mungkin dilalui. Mereka merayap melalui semak belukar lebat dan jurang berbatu dalam kondisi gelap gulita.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar