Pertemuan di kediaman Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, di Surabaya Minggu lalu ternyata membawa angin segar. Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, dengan tegas menyatakan bahwa dinamika konflik internal di tubuh PBNU sudah berakhir. "Kita anggap sudah lewat," ujarnya, menegaskan semuanya kembali ke kebersamaan.
Acara yang digelar di Pondok Pesantren Miftachussunnah itu sendiri bukanlah hal yang berdiri sendiri. Menurut Gus Yahya, ini adalah rangkaian lanjutan dari kesepakatan islah yang telah dijalin di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, beberapa hari sebelumnya.
"Alhamdulillah, silaturahim ini momentum untuk mengukuhkan apa yang sudah disepakati di Lirboyo. Secara batin kita kukuhkan dengan silaturahim,"
katanya usai pertemuan.
Dampak langsung dari rekonsiliasi ini pun terlihat nyata. Struktur organisasi yang sempat mengalami gejolak akan dikembalikan seperti semula. Salah satu poin pentingnya adalah kembalinya Saifullah Yusuf, Gus Ipul, ke posisinya sebagai Sekretaris Jenderal PBNU. "Pokoknya sekarang kembali bersama. Posisi sekjen seperti semula," tegas Gus Yahya.
Nuansa pertemuan itu sendiri digambarkan cukup hangat dan penuh keakraban. Tak banyak pidato atau agenda formal. Mereka justru mengisi waktu dengan selawatan bareng, berdoa, dan tentu saja, makan bersama. Yang menarik, Kiai Miftach, Gus Yahya, dan Gus Ipul terlihat duduk berdampingan, bahkan menyantap hidangan dari satu nampan yang sama.
"Tidak banyak acaranya, hanya selawat bersama. Lalu saling bersilaturahim untuk memperkuat ikatan batin. Soalnya, kita ini dulu berangkatnya memang bersama-sama,"
tutur Gus Yahya menggambarkan suasana.
Pertemuan yang berlangsung Minggu (28/12) itu dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci. Selain Gus Yahya dan Gus Ipul, tampak juga Ahmad Fahrur Rozi, M. Nuh, serta Ulil Abshar Abdalla. Kehadiran mereka seolah menjadi penanda soliditas yang kembali terjalin. Di sisi lain, momen makan dari satu nampan tadi barangkali bukan sekadar simbol, melainkan pengingat akan fondasi persaudaraan yang harus terus dijaga.
Artikel Terkait
Pengamat Soroti Reformasi Kultural sebagai Inti Perubahan di Tubuh Polri
KPK Dalami Aliran Dana Kasus Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid
Istri Tersangka Korupsi Bupati Bekasi Diperiksa KPK
Batalyon Arhanud 21 Pasgat Jadi Perisai Terakhir Objek Vital TNI AU