Lagi-lagi, hasil yang mengecewakan harus ditelan Cremonese. Di markas Atalanta, Gewiss Stadium, Selasa dini hari kemarin, mereka tumbang dengan skor 1-2. Kekalahan ini bukan sekadar angka, tapi melanjutkan tren buruk yang sudah menggerogoti tim berjuluk I Grigiorossi itu.
Yang jadi perhatian utama? Pertahanan mereka yang seperti terbuka lebar di menit-menit awal. Bayangkan saja, ini sudah jadi kali ketujuh mereka kebobolan sebelum menit ke-15 berjalan. Sebuah kebiasaan buruk yang, menurut pelatih Davide Nicola, harus segera diakhiri.
Nicola sendiri tampak tak mau mencari-cari alasan. Dalam pernyataannya yang dikutip dari laman klub, ia mengakui ada masalah mentalitas di sana.
"Ini sesuatu yang kami sadari. Awal yang terlalu hati-hati justru paradoks, bisa bikin kita lengah. Gerakan jadi kurang tepat waktu, dan ujung-ujungnya kebobolan. Kita harus mulai pertandingan dengan niat untuk langsung efektif, bukan cuma bertahan," ujar pelatih berusia 52 tahun itu.
Ia menambahkan, lawan-lawan di Serie A terlalu kuat untuk dihadapi dengan setengah hati. "Untuk dapat poin, kita harus tampilkan permainan bagus dan kebobolan lebih sedikit. Itu yang akan kami usahakan, termasuk dari sisi mental," tegasnya.
Kekalahan dari Atalanta itu bukan insiden tunggal. Malah, ia memperpanjang deretan pilu Cremonese: sudah 10 laga beruntun mereka gagal merasakan kemenangan! Dalam dua bulan terakhir, catatan mereka cuma tiga imbang dan tujuh kekalahan. Kemenangan terakhir mereka rasakan jauh di awal Desember lalu, saat mengandaskan Lecce 2-0.
Namun begitu, Davide Nicola memilih untuk tidak murka. Alih-alih marah, ia justru memberi pesan penyemangat. Baginya, yang penting sekarang adalah bagaimana bangkit dan tidak terpuruk dalam statistik buruk tersebut.
"Pertama, Anda akan lihat Cremona yang pantang menyerah. Tim ini masih hidup, kondisinya baik, dan tidak akan berhenti berjuang. Memang, dapat poin lawan tim seperti Atalanta atau Inter bukan hal mudah, tapi kami lihat pemain baru sudah berintegrasi dengan baik. Kami juga sedang menunggu pemain yang cedera pulih," papar mantan pelatih Udinese itu.
Nicola punya rencana taktis yang jelas ke depan. "Kami harus pertahankan pola permainan yang bisa menyerang kotak penalti, baik lewat sayap atau serangan langsung. Main seperti di babak kedua lawan Atalanta memberi kami ruang, tapi cuma bertahan di belakang bola jelas tidak akan cukup," tutupnya.
Jadi, tekanan kini makin berat di pundak sang pelatih dan kiper andalan, Emil Audero. Apakah mereka bisa segera menemukan formula untuk mengakhiri krisis panjang ini? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
IISIA Serukan Penguatan Kedaulatan Baja Nasional di Tengah Gempuran Impor
Arab Saudi Kirim 100 Ton Kurma untuk Ramadan, Sebagian untuk Pembukaan Masjid Raya IKN
Kementerian PU Siapkan Tanggul Permanen untuk Atasi Banjir di Tol Tangerang-Merak
BPS Verifikasi 27.173 Keluarga Penerima Bantuan Perbaikan Rumah Pascabencana di Sumatera