Maka, langkah preventif pun diambil. Edukasi tentang pentingnya masker disampaikan, sekaligus dibagikan secara gratis. Sebuah intervensi sederhana, tapi diharapkan bisa mencegah penularan yang lebih luas.
Di sisi lain, penanganan gizi berjalan dengan fokus yang berbeda. Dr. Dini Setiarsih, dosen Gizi Unusa yang berpengalaman menangani bencana, memimpin pembukaan dapur PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak) di Pante Lhong.
Setiap hari sejak 20 Desember, ia bersama tim dan kader setia menyiapkan makanan bergizi khusus. Sasaran mereka 70 balita dan 5 ibu hamil.
“Dapur PMBA ini spesial, karena menyasar kelompok yang butuh gizi khusus. Balita dan ibu hamil kebutuhan nutrisinya berbeda, bisa saja terlewat di dapur umum,” tutur Dr. Dini.
“Ini upaya kami memastikan mereka tetap mendapat gizi cukup di masa sulit.”
Sementara itu, pasokan air bersih jadi persoalan kritis lain. Achmad Syafiuddin bersama Dwi Handayani dari Kesehatan Masyarakat Unusa fokus pada instalasi “Unusa-Water”.
“Teknologi tepat guna ini mengolah air kotor jadi layak pakai, bahkan untuk minum,” imbuhnya.
Instalasi mereka pasang di RSUD Peusangan Raya. Bantuan yang sangat dibutuhkan itu diterima langsung oleh Direktur RSUD, dr. Agusnaidi. Ketua IDI Cabang Bireuen, dr. Zumirda, turut menyaksikan penyerahannya.
Bantuan ini memang tepat waktu. Sejak banjir, rumah sakit itu kesulitan air bersih. Padahal, kebutuhan justru meningkat baik untuk layanan medis, para pengungsi yang masih bertahan di sana, maupun untuk perbaikan gedung.
Bersamaan dengan itu, Dwi Handayani gencar melakukan promosi kesehatan di sejumlah titik di Kecamatan Peusangan. Pesannya satu: mencegah penyakit sebelum muncul, baik pasca bencana sekarang maupun di masa-masa mendatang.
Artikel Terkait
Prakiraan Cuaca Sulsel: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Minggu Ini
Veda Pratama Amankan Start Posisi Empat di Moto3 Amerika
Timnas Iran Gelar Aksi Diam Bawa Tas Sekolah, Berduka untuk 165 Korban Anak di Minab
Antonelli Rebut Pole Position, Grid Suzuka 2026 Diwarnai Kejutan