Syaikh di Manchester Tantang Maut dengan Racun Tikus, Buktikan Kekuatan Iman

- Minggu, 28 Desember 2025 | 09:20 WIB
Syaikh di Manchester Tantang Maut dengan Racun Tikus, Buktikan Kekuatan Iman

Suasana di sebuah debat di Universitas Manchester sempat memanas. Sejumlah hadirin dari kalangan Nasrani melontarkan tantangan langsung kepada Syaikh Rasyid Asrar. Intinya, mereka menantang keimanan sang syaikh terhadap sebuah hadis sahih.

“Kalau kalian sungguh-sungguh percaya hadis Nabi yang diriwayatkan Bukhari-Muslim itu,” kata mereka, “yang menyebut tujuh kurma ajwah pagi hari bisa melindungi dari racun dan sihir, coba buktikan sekarang! Minumlah racun ini!”

Yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar perkiraan siapa pun. Dengan ketenangan yang mengejutkan, Syaikh Rasyid Asrar justru menerima tantangan itu. Di depan mata semua orang, beliau meminum racun tikus yang disodorkan. Lebih mencengangkan lagi, debat kemudian dilanjutkan seperti biasa sampai tuntas. Syaikh sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan.

Hingga detik ini, beliau dilaporkan tetap sehat walafiat. Banyak yang melihat ini bukan sekadar keberanian biasa, melainkan bentuk penjagaan langsung dari Allah Ta‘ala.

Tak heran, peristiwa itu langsung ditafsirkan banyak pihak sebagai karamah. Sebuah kejadian luar biasa yang menembus batas hukum alam biasa. Ini mengingatkan kita pada kisah serupa di masa lalu.

Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, sang pedang Allah yang terhunus, pernah juga melakukan hal serupa. Saat ditawari racun, sang mujahid dengan penuh tawakal justru meminumnya sambil berdoa:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan racun itu pun tak membahayakannya. Atas izin Allah, tentu saja.

Para ulama punya istilah khusus untuk fenomena semacam ini: khawariqul ‘adah. Intinya, itu adalah perkara di luar kebiasaan yang Allah tampakkan pada hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan benar-benar berserah diri. Tapi di sini kita harus hati-hati.

Peristiwa seperti ini harusnya dipahami sebagai pembenaran atas sabda Nabi, bukan ajakan untuk nekad menguji Allah. Iman seorang Muslim itu ditunjukkan dengan membenarkan hadis, mengimaninya, lalu memahaminya lewat bimbingan ulama. Bukan dengan menjadikannya bahan eksperimen yang ujung-ujungnya membahayakan diri sendiri.

(Sucipto Hadi Saputro)


"Syaikh Rasyid Asrar atau Asrar Rashid adalah ulama dan penulis Sunni kontemporer yang aktif di Birmingham, Inggris. Namanya cukup dikenal lewat karya-karya tulis dan debat publik. Salah satu bukunya yang terkenal berjudul ISLAM ANSWERS ATHEISM.

Latar belakang pendidikannya cukup mendalam. Setelah belajar dari guru-guru tradisional di Birmingham, ia melanjutkan rihlah ilmunya ke Damaskus. Di sana, ia menimba ilmu di Universitas Damaskus, juga di Masjid Umayyah Agung dan Masjid Muhayyuddin. Penguasaannya terhadap bahasa Arab dan ilmu-ilmu Islam klasik seperti teologi dan fikih cukup mumpuni.

Kiprahnya kini banyak tersebar di platform digital. Melalui YouTube dan media sosial, ia aktif mengulas tema-tema seperti perbandingan agama, kritik terhadap sistem kapitalis, hingga persoalan sektarian di kalangan umat Islam sendiri.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar