Rabu lalu, suasana di depan kantor DPRD Tulungagung tampak ramai. Ratusan guru berkumpul. Mereka datang bukan untuk acara biasa, melainkan menyuarakan isi hati yang sama: gaji mereka tak lagi bisa dihidupi. Masalah guru PPPK Paruh Waktu yang digaji tak layak ini ternyata bukan cuma cerita di Tulungagung, tapi sudah merata di banyak daerah.
Melalui PGRI setempat, mereka mendatangi dewan. Tujuannya jelas: mengawal rapat dengar pendapat dengan Komisi A DPRD. Intinya soal kesejahteraan, atau lebih tepatnya, ketiadaan kesejahteraan itu sendiri.
Sekretaris PGRI Tulungagung, Suryono, yang hadir mewakili rekan-rekannya, bicara blak-blakan. "Kami di sini menyampaikan aspirasi karena penghasilan yang diterima benar-benar belum layak," katanya.
Menurutnya, tugas guru itu mulia, membangun SDM unggul. Tapi realitanya pahit.
"Di sisi lain kami berkewajiban menjalankan profesi guru, namun juga harus menghidupi keluarga," ujar Suryono.
Artikel Terkait
Bagian Tubuh Korban Mutilasi Bekasi Ditemukan di Bogor
Pelatih Bulgaria Apresiasi Perkembangan Timnas Indonesia Usai Kalah Tipis di Final FIFA Series
Bocah 9 Tahun Tewas Tertabrak Mobil di Halaman Rumah, Sopir Diduga Mengantuk
Herdman Soroti Potensi Doni Tri Pamungkas dan Beckham Putra Usai Kekalahan Timnas