“Kalau saya sudah enggak sekolah, saya cuma kayak bantu ayah aja buat bayar listrik, buat makan, ya gitu buat sehari-hari,” ucapnya.
Balon gelembung yang ia jual diambilnya dari Pasar Pagi. Menurut hitung-hitungannya, keuntungannya lumayan. Modal sekotak (isi 24 buah) sekitar enam puluh ribu rupiah. Jika laku semua, omzetnya bisa mencapai dua ratus empat puluh ribu. “Untungnya itu ya lumayan banyaklah kita jual,” sambung dia.
Pilihan berjualan balon ini punya sejarahnya sendiri. Sebelumnya, Agung sudah akrab dengan dunia dagang sejak kecil, tepatnya berjualan telur gulung sejak usia 8 tahun.
“Ya karena gini ya, saya kan pernah jualan telur gulung di Kota. Terus sudah penuh nih nggak ada tempat, ya saya mikir lagi supaya bisa buat menyambung hidup, jualan apa ya. Kepikir-pikir eh tiba-tiba ke balon,” ujarnya sembari tersenyum.
Tapi senyumnya itu menyimpan cerita lain. Ada kepahitan yang masih membekas dari pengalaman berdagangnya dulu.
“Kalau saya itu membekas mah ada sih kayak sakit hati sama orang. Terus orang itu kayak jelekin saya tentang telur gulung saya, katanya pakai air inilah air itulah gitu. Padahal air saya itu air bersih gitu,” tuturnya dengan suara lirih.
Kembali ke taman Monas yang terang benderang, gelembung-gelembung Agung terus mengudara. Rapuh dan sementara, persis seperti momen bahagia di liburan itu. Namun di balik kerapuhannya, gelembung sederhana itulah yang menjadi penopang hidup Agung dan keluarganya, sebuah sumber pengharapan yang terus ditiupkan di tengah gemerlap ibu kota.
Artikel Terkait
Kejagung Tetapkan Samin Tan Tersangka, Pengamat Desak Penelusuran ke Oknum Aparat
Amran Sulaiman Ungkap Doa di Istiqlal dan Proyek Masjid 20 Ribu Jemaah di Makassar
Polisi Amankan Pria Diduga Perkosa Kekasihnya yang Masih Siswi SMP di Makassar
Sistem Satu Arah Cipali Picu Macet Parah 3 Km di Pantura Cirebon