Rizal Fadillah Pertanyakan Sikap Diam Prabowo Soal Tragedi Km 50
Kasus lama itu kembali mencuat. Peristiwa berdarah di Km 50 Tol Jakarta-Cikampek, yang merenggut nyawa enam anggota Laskar FPI pada Desember 2020, lagi-lagi jadi bahan perbincangan. Kali ini, M Rizal Fadillah, seorang pengamat politik, yang menyuarakannya. Ia menilai kasus ini jauh dari kata tuntas. Menurutnya, ada skandal kekuasaan besar di baliknya yang hingga kini belum ada pertanggungjawaban yang jelas, baik secara politik apalagi hukum.
Dalam sebuah tulisan bertajuk “Remember Km 50: Prabowo Pengkhianat?”, Rizal menyebut peristiwa itu sebagai pembunuhan di luar hukum. Bukan sekadar salah prosedur, tapi sebuah aksi terencana yang melibatkan banyak pihak.
“Ini bukan peristiwa biasa,” tulis Rizal pada Sabtu (27/12/2025). “Ini pembunuhan politik dengan target utama Habib Rizieq Shihab, sementara enam anggota Laskar FPI menjadi sasaran antara.”
Ia menggambarkan rangkaian kejadian yang mendahului tragedi itu. Mulai dari pengawasan ketat terhadap Habib Rizieq di kawasan Megamendung dan Sentul di awal Desember. Rizal meyakini, operasi khusus waktu itu melibatkan banyak institusi. Polisi, intelijen, bahkan unsur militer.
Nama-nama pejabat tinggi pun disebut. Mantan Presiden Joko Widodo, Kapolri saat itu, pimpinan BIN, hingga pejabat TNI di Jakarta, dinilai Rizal harus memikul tanggung jawab politik.
Namun begitu, sorotan paling tajam justru diarahkan ke Prabowo Subianto. Saat peristiwa Km 50 terjadi, Prabowo sedang menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Yang jadi pertanyaan Rizal: kenapa dia diam saja?
“Diamnya Prabowo saat peristiwa Km 50 berlangsung memunculkan pertanyaan besar,” tulisnya. “Apakah ini bentuk pengkhianatan, terutama kepada umat Islam dan para pendukungnya sendiri?”
Pertanyaan itu makin menguat mengingat Prabowo pernah bertemu dengan Habib Rizieq di Arab Saudi sebelumnya. Kini, di kursi presiden, kasus itu seperti tenggelam. Proses hukum yang hanya menjerat dua anggota polisi dinilai Rizal cuma sandiwara. Sebuah cara untuk melindungi aktor-aktor utama yang sesungguhnya.
Di akhir tulisannya, Rizal berpesan agar publik tak mudah lupa. Tragedi Km 50, baginya, adalah simbol. Simbol kebengisan dan pembungkaman.
“Remember Km 50. Urusan ini belum selesai. Para aktor kunci masih bebas berkeliaran, sementara keadilan bagi korban belum pernah benar-benar ditegakkan,” tegasnya.
Seruan itu menggantung. Menunggu jawaban yang entah kapan datang.
Artikel Terkait
Mantan Menag Yaqut Beri Klarifikasi ke BPK Soal Dugaan Kerugian Negara dari Kuota Haji
Pemerintah Intervensi di Hulu untuk Stabilkan Harga Ayam dan Telur
Polemik Proyek Kapal KKP dan Menkeu Berakhir Setelah Klarifikasi Langsung
Curah Hujan Tinggi Picu Banjir 1,5 Meter di Dua Kecamatan Cirebon