MURIANETWORK.COM – Negeri ini punya enam komoditas tambang andalan. Posisinya di peta global pun tak main-main: nikel nomor satu dunia, timah di peringkat kedua, lalu batubara di posisi tiga hingga lima. Emas ada di peringkat lima, bauksit keenam, dan tembaga mengisi posisi kesepuluh. Tapi, di balik deretan angka mentereng itu, ada cerita lain yang menggelisahkan. Kedaulatan negara atas kekayaan strategis ini, dalam sepuluh tahun belakangan, terus tergerus. Dan itu terjadi dengan sangat drastis.
Pengamat politik Muhammad Said Didu angkat bicara. Ia memperingatkan soal cadangan nikel saprolite Indonesia yang katanya cuma bertahan untuk 13 tahun ke depan. Yang lebih memprihatinkan, 94,4 persen dari sumber daya ini sudah berada dalam genggaman asing dan oligarki. Miris, bukan?
Nasib serupa tampaknya menimpa bauksit. Cadangannya mencapai 2,58 miliar ton, atau sekitar 9,8% dari cadangan dunia. Tapi, menurut Didu, 96,4 persennya sudah diserahkan ke perusahaan asing. China disebut-sebut sebagai pemain utamanya.
"Jangan sampai habis dan dikuasai negara lain," tegas Didu.
Ia mendesak agar momentum penertiban tambang dimanfaatkan sebaik-baiknya. "Manfaatkan kesempatan penertiban tambang untuk mengembalikan kedaulatan SDA untuk kepentingan rakyat, bukan untuk asing," ujarnya dalam sebuah video yang beredar pada Kamis (25/12/2025).
Lalu bagaimana dengan timah? Di sektor ini, peran BUMN ternyata sudah sangat menyusut. Didu menyebut, BUMN kini cuma menguasai 35,5 persen dari total produksi. Sisa yang cukup besar, 64,5 persen, justru dikuasai oleh swasta asing. Situasi yang jelas memantik tanda tanya besar tentang masa depan pengelolaan sumber daya alam kita.
Artikel Terkait
Ledakan Petasan di Balon Udara Blitar Tewaskan Pemuda, Lukai Dua Anak
Perindo Sultra Kurban Lima Sapi untuk Warga Kurang Mampu di Kendari
Atta Halilintar Sebar 12 Ekor Sapi Kurban ke Sejumlah Daerah di Jawa Barat
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok