“Baik El Nino maupun La Nina itu selalu berakhir pada akhir kuartal pertama di tahun yang berjalan. Jadi untuk 2026, episode La Nina lemah ini diperkirakan selesai di sekitar akhir kuartal pertama,” paparnya lebih lanjut.
Meski secara umum iklim 2026 dipandang normal, BMKG mengingatkan agar kita jangan lengah. Normal di musim hujan ya berarti hujannya banyak. Dan di puncaknya seperti Januari, ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor tetap nyata.
“Walaupun tahun 2026 secara umum sifat iklimnya normal, normal untuk bulan-bulan seperti Januari atau Februari artinya hujannya memang banyak. Itu fakta,” tegas Ardhasena.
Risiko bencananya, lanjut dia, tidak cuma ditentukan oleh seberapa deras hujan yang turun. Kerentanan suatu wilayah memegang peranan krusial.
“Kalau curah hujan tinggi bertemu dengan kerentanan yang tinggi, ditambah tata guna lahan yang kurang baik, ya dampaknya bisa parah. Longsor, banjir, dan sejenisnya harus kita antisipasi,” katanya.
Oleh karena itu, kesiapsiagaan jadi kunci. Masyarakat dan pemerintah daerah di wilayah rawan diminta untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini, guna meminimalkan dampak yang mungkin timbul.
“Untuk respons jangka pendek, semua pihak bisa merujuk pada prediksi curah hujan dasarian dan bulanan kami yang diperbarui rutin setiap 10 hari dan setiap bulan,” tandas Ardhasena menutup penjelasannya.
Artikel Terkait
Vinicius dan Camavinga Santai Berbincang Usai Prancis Kalahkan Brasil
Macet Parah Landa Tanjung Bunga Imbas Pensi Smansa 2026 yang Dihadiri Ribuan Penonton
Timnas Indonesia Hancurkan Saint Kitts dan Nevis 4-0, Lolos ke Final FIFA Series 2026
Gubernur Sulsel Bahas Kerja Sama Pendidikan dan Investasi dengan Pejabat AS